RADAR JOGJA – Dunia pariwisata yang di dalamnya ada hotel, jadi salah satu yang paling terdampak pandemi Covid-19. Kebebasan orang untuk berlibur dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, hingga kini masih belum bisa dilakukan seperti sebelum era pandemi.

Namun, bukan berarti mereka yang bekerja di dunia perhotelan menyerah begitu saja. Setiap peluang yang bisa diambil, harus dilaksanakan. Salah satunya adalah dengan menjalankan staycation.

Staycation merupakan gabungan dari dua kata, stay yang artinya tinggal atau menetap dan vacation yang berarti berlibur. Bisa dikatakan staycation adalah cara berlibur dengan menghabiskan waktu dan menginap di hotel yang tak jauh dari rumah. Misal di dalam kota atau dalam provinsi.

Hotel-hotel yang ada di DIJ juga mencoba menawarkan peluang itu. Salah satunya éL Hotel Royale Yogyakarta Malioboro. General Manager Yudhi Ramadina mengatakan, pihaknya mencoba memanfaatkan sekecil apa pun peluang yang ada. “Kami punya program staycation, baik sebelum PPKM maupun selama PPKM ini,” ujarnya.

Selain itu, salah satu peluang lain yang coba dimanfaatkan oleh dunia usaha hotel adalah akomodasi bagi mereka yang menjalankan isolasi mandiri. Bukan mereka yang positif, tapi keluarga yang sudah terkonfirmasi negatif Covid-19.
“Jadi ada semacam paket yang bisa ngurusi keluarga yang positif di rumah, dan keluarga yang negatif bisa kami urusi juga saat menginap di sini,” jelasnya.

Lebih lanjut Yudhi menyebutkan, sejauh ini program staycation sedikit bisa membuat hotelnya tetap bernapas. Meski jumlahnya sangat kecil, tetap ada tamu yang datang. “Ada yang dari dalam DIJ, ada juga yang dari luar meski jumlahnya sedikit,” jelasnya.

Saat ini kondisi pandemi Covid-19 belum ada yang bisa memprediksi kapan akan berakhir. Kendati demikian, Yudhi tetap menjaga pikiran positif, terutama setelah semakin masifnya program vaksinasi yang dilakukan di Tanah Air.

Sementara itu, Ketua DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIJ Deddy Pranowo Eryono menyebut, staycation merupakan satu-satunya strategi masuk akal yang bisa dilakukan hotel-hotel yang ada di DIJ. Namun, selama PPKM Darurat dan dilanjutkan dengan PPKM Level 4 ini, okupansi hotel di DIJ jauh menurun.

“Sekarang ini rata-rata hanya enam persen saja okupansi hotel di DIJ,” ungkapnya. Ia juga menyatakan hotel-hotel yang ada di DIJ memang selektif dalam menerima tamu. Untuk itu, syarat kartu vaksin dan hasil negatif tes antigen mutlak dibawa oleh para tamu yang ingin menginap di hotel di DIJ.

Deddy berharap program vaksinasi Covid-19 bisa terus dipercepat. Menurutnya, salah satu kunci dari menghentikan pandemi ini adalah dengan vaksinasi. “Kuncinya percepatan vaksinasi,” tandasnya. (kur/laz)

Jogja Raya