RADAR JOGJA – Anda sudah divaksin dan ingin ngopi tanpa khawatir tertular Covid-19? Kafe Jogya by Kepomo bisa jadi pilihan. Karena hanya melayani pengunjung yang sudah divaksin. Wajib menunjukkan kartu vaksinasi. Bagaimana dengan yang belum divaksin?

WINDA ATIKA IRA P, Jogja, Radar Jogja

Seorang barista tengah meracik kopi saat Radar Jogja datang ke Kafe Jogya by Kepomo, kemarin (27/7). Berada di dalam Njero Beteng, tepatnya di Jalan Siliran Lor, Panembahan, Kraton, belum banyak pengunjung yang datang. Karena pemilik kafe menerapkan aturan khusus. “Kami hanya menerima pengunjung yang sudah divaksin saja,” kata Pengelola Kafe Jogya by Kepomo, Gatot Gutama.

Ya, kafe ini, berkomitmen membuka layanan hanya dikhususkan bagi pengunjung atau konsumen yang sudah divaksin dan wajib bermasker. Program ini baru dimulai Senin lalu (26/7). Kenapa pilih-pilih pengunjung hanya yang sudah divaksin? Gatot menyebut, agar pengunjung juga merasa terjamin dan nyaman ketika hendak berkunjung ke kafe. “Ada orang masuk datang berkunjung, kamu udah aman dan dari kita juga udah aman. Karena sudah bermasker dan vaksin.”

Konsumen yang datang akan ditanyai lebih dulu oleh karyawan di pintu masuk. Apakah sudah vaksin atau belum. Wajib menunjukkan bukti sertifikatnya jika sudah divaksin. Setelahnya, diizinkan masuk dan akan dicek suhu tubuh serta wajib mencuci tangan serta boleh memesan menu yang ada. Tidak hanya itu mereka yang sudah divaksin akan mendapatkan diskon sebesar 20 persen setiap pembelian menu hingga 2 Agustus mendatang. Dan diperbolehkan untuk makan di tempat sesuai aturan dan protokol kesehatan (prokes). “Kita menghargai customer yang sudah divaksin, ya lebih memberikan apresiasi karena sudah divaksin berhak mendapat layanan yang baik,” terangnya.

Bagaimana konsumen yang belum divaksin? Kafe ini tidak serta merta, konsumen belum vaksin masih diperbolehkan order minuman atau makanan. Hanya, tidak boleh di tempat melainkan harus take away. “Kalau nggak (vaksin) kita tolak, silahkan order tapi take away. Dan kamai sediakan tempat khusus untuk take away,” sambungnya.

Selama dua hari penerpan aturan khusus, kunjungan disebut cukup membaik dibandingkan sebelum-sebelumnya. Meskipun, masih cukup berbeda dengan kondisi normal tetapi terbilang signifikan di masa pandemi bahkan PPKM ini. Kunjungan mencapai 20 orang per hari, dengan pembatasan-pembatasan tertentu. “Mungkin lebih bagus sama omset ketika awal-awal sebelum 3 Juli (sebelum PPKM darurat). Ini sudah cukup lumayan,” katanya yang menyebut rata-rata kujungan adalah kalangan anak muda berpenghasilan dan sudah bekerja.

Sebelumnya, kafe ini sempat vakum karena terdampak pandemi. Sebelum muncul kebijakan PPKM Darurat 3-20 Juli yang kemudian diperpanjang menjadi PPKM Level 4 hingga 25 Juli sempat tutup selama dua bulan. Begitu pula awal-awal pandemi sempat buka tutup. Karyawannya pun terdampak dirumahkan karena tidak ada pemasukan atau omset turun 50 persen. Tunjangan makan pun terpaksa dihentikan untuk karyawannya. “Dulu sempat akan mulai bangkit omzet sempat naik 50-60 persen, tapi muncul kebijakan lagi lebih anjlok lagi,” ceritanya.

Berangkat dari hal tersebut, ia memberanikan diri untuk membuka kafenya yang berdiri sejak dua tahun lalu. Dengan catatan, baik karyawan dan pengunjung diwajibkan tertib dan mentaati aturan protokol kesehatan (prokes) demi melindungi diri dan sesama. Pun, karyawannya yang berjumlah 10 orang juga telah tervaksin lebih dulu.

Sehingga, tujuan memunculkan inovasi ini juga demi memberikan lapangan pekerjaan lagi agar mereka bisa kembali bekerja dan saling merasa nyaman. Sebab, mereka bekerja di bidang jasa yang bertemu banyak konsumen dan tidak diketahui pula riwayat perjalanannya. “Ya alhamdulillah, mereka bisa bekerja lagi dan sudah divaksin. Program ini rencananya akan kami lanjutkan jangka panjang,” tambahnya.

Sementara, seorang karyawan, Airdam Heri Saputra mengaku khawatir saat pandemi harus melayani banyak orang. Terlebih dirinya yang lebih intens bertemu dan bertatap muka terhadap konsumen secara acak. Setiap kali pelayanan harus bersinggungan langsung dengan customer. “Ya khawatir ya, karena saya lebih banyak kontak tatap muka dengan mereka. Takutnya membawa ke keluarga,” katanya.

Laki-laki 30 tahun itu juga sempat diliburkan dampak dari kafe yang harus tutup sementara. Terpaksa selama hampir dua bulan atau lebih dia tidak bekerja. Meski begitu, sekedar untuk mencari aktifitas agar tidak merasa bosan ia bergabung dengan komunitas atau organisasi untuk berkegiatan sosial. “Sekarang lebih merasa terjaga karena inovasi dari kafe ini harus sudah divaksin,” imbuh Putra. (pra)

Jogja Raya