RADAR JOGJA – Sebanyak lima pasar tradisional non esensial sudah kembali diizinkan beroperasi dengan ketentuan protokol kesehatan (prokes) Covid-19. Sebelumnya, sejumlah pasar itu ditutup sementara selama masa PPKM pada 3-20 dan dilanjutkan hingga 25 Juli.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Jogja Yunianto Dwi Sutono mengatakan sesuai Instruksi Mendagri, Gubernur DIJ dan Wali Kota Jogja pasar tradisional non esensial sudah diizinkan buka asal sesuai prokes yaitu buka sampai dengan pukul 15.00. Pembatasan jumlah pengunjung dan pedagang sebesar 50 persen dari kapasitas pasar. “Lima pasar yang ditutup sudah boleh buka, kan instruksi jelas non esensial boleh buka asal prokes,” katanya Rabu (28/7).

Kelima pasar tradisional yang tidak menjual barang esensial tersebut adalah Pasar Beringarjo Barat termasuk di dalamnya UPT Pusat Bisnis yang menjual fesyen dan souvenir, Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (Pasthy), Pasar Klitikan Pakuncen yang menjual barang unik dan barang bekas, Pasar Sepeda Tunjung Sari serta Pasar Cipto Mulyo yang menjual kebutuhan dekorasi taman.

Selebihnya, mereka diperbolehkan buka asal 50 persen dari kapasitas pasar dan maksimal tutup pukul 15.00. Kecuali pasar induk Giwangan yang boleh beroperasi hanya sampai pukul 20.00 yang sebelumnya 24 jam. “Strategi kita bergantian tutup buka, sedang pasar tradisional yang buka hanya yang punya kios dan los. Pedagang (liar) di lapak tidak boleh berjualan, itu nanti yang membantu penertiban dari Satpol PP dan Mantri (Camat),” ujarnya.

Sementara, luberan pedagang di sejumlah pasar tradisional seperti Sentul, Kranggan, Kotagede, Demangan, pasar Legi, dan Patangpuluhan ini tetap dipertahankan atau tidak diperbolehkan berjualan. Selain untuk menjaga kapasitas 50 persen karena berpotensi mendatangkan kerumunan. Terlebih luberan pedagang merupakan aktifitas ilegal yang berjualan di luar teritorial pasar. Pengawasan dan penrtiban dilakukan oleh tingkat wilayah bersama Satpol PP. “Momentum PPKM  ini sekaligus kita gunakan untuk penertiban menjaga dan menghindari kerumunan, mengoptimalkan menjadi 50 persen,” jelasnya.

Terpisah, Koordinator Paguyuban Pasar Beringharjo Barat Bintoro mengatakan, kondisi pasar masih cukup sepi pada hari pertama setelah ditutup sejak 3-25 Juli. Ini karena memang konsumen utamanya adalah wisatawan. Sementara, belum ada wisatawan yang datang. Hanya warga lokal saja yang berkunjung, tetapi belum ada transaksi cukup banyak. “Sudah ada (transaksi) cuma belum begitu banyak, ya mau nggak mau sih memang ini bertahap,” katanya.

Sejak kemarin, disebut belum 100 persen pedagang berjualan di pasar. Hanya baru sekitar 60-70 persen yang membuka tokonya. Sisanya, diprediksi karena belum berani menangung resiko ketika membuka tokonya masih dalam kondisi sepi. Sebab masih dalam masa PPKM. “Karena masih dalam rangka PPKM sehingga banyak yang takut kalau seandainya jualan nanti pengunjungnya masih kurang,” tambahnya. (wia/pra) 

Jogja Raya