RADAR JOGJA – Selama 30 tahun menjadi perajin peti jenazah, baru bulan ini peminatnya tinggi. Ya, itulah pengakuan Yanto, perajin peti asal Kersan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Dalam sehari, permintaan peti bisa tiga sampai delapan peti.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Covid-19 terus menghantui, menjadi wabah penyebab kematian tertinggi bulan ini. Dan, peti menjadi hal penting saat menguburkan jenazah terpapar Covid-19. Namun dalam sebulan terakhir, permintaannya tinggi. Yanto, perajin peti puluhan tahun ini pun dibuat kewalahan hadapi permintaan.

“Awal-awal sampai pertengahan permintaan ada terus. Bahkan sampai pemesanan ditunggui,” ungkap Yanto saat ditemui Radar Jogja di rumahnya (25/7).

Yanto menceritakan, selama 30 tahun menggeluti usaha ini, baru kali ini dia dibuat terkejut. Mendapatkan banyak pesanan. Padahal sebelumnya, permintaan hanya dua sampai tiga kali dalam seminggu.

Dikatakan, semua itu tak lepas adanya varian baru yang menyebar dengan cepat dan ganas. Dalam sekejap dapat menyebabkan fatal kematian, sehingga jumlah orang yang meninggal ikut meninggi.
Meski hal ini terasa ngeri di pikirannya, dia tetap optimistis dan terus menjaga diri. Mengantisipasi penularannya, mentaati protokol kesehatan (prokes).

“Kemarin sempat ada permintaan dari RSUP Sardjito. Tapi karena jumlahnya yang terlalu banyak, kami kewalahan. Nggak sanggup, SDM terbatas,” ujar Yanto.

Pria berusia lanjut ini sempat bekerjasama dengan dua rumah sakit (RS), RS Islam Jogjakarta dan RS Pantirini Jogjakarta. Kendati demikian, permintaan warga lebih tinggi, terutama kematian saat menjalani isolasi mandiri (25/7).

Permintaan tinggi membuatnya berjaga 24 jam. Karena pasien Covid-19 harus dimakamkan dengan cepat, tak jarang dilakukan sistem kebut dua jam. Proses pembuatannya dilengkapi dengan balutan kain putih pada kotak peti. “Lalu khusus untuk peti Covid-19, harus dilengkapi dengan pembungkus plastik,” katanya.

Untuk satu peti dia banderol dengan harga Rp 750 ribu sampai Rp 1,3 juta, tergantung ukuran dan jenisnya. Kalau khusus peti Katholik, harganya lebih mahal. “ Bisa sampai Rp 5 juta sampai Rp 7,5 juta,” tambahnya.

Adapun kendala yang dihadapi, ketika peminatnya tinggi, giliran SDM yang tergerus. Menyebabkan ia kelimpungan. Apalagi bila pasokan papan kayunya berkurang atau telat mengirim. Ini menjadi kendala sekaligus dilema. “Alhamdulillah dalam kondisi itu bisa teratasi,” katanya.

Permintaan tinggi itu, lanjut Yano, tak kenal waktu. Pihaknya pun harus terus menyediakan cadangan. Bahkan saat itu stok peti umum habis. Yang tersisa peti kelas menengah. “Karena sudah nyari ke mana-mana nggak dapat, sampai akhirnya peti itu mereka beli. Sampai-sampai dananya iuran,” kenangnya.

Yanto lalu menunjukkan tiga peti mati di teras rumahnya. Dia menyebut, meski ada peningkatan permintaan peti jenazah bulan ini, selama dua hari belakangan peminatnya mulai menurun. “Dua hari ini belum ada peminat. Mudah-mudahan kasusnya (kematian, Red) juga menurun,” ujarnya.

Dia menyebut, satu buah peti mati dibuat dua jam oleh empat orang. Lalu diwiru dengan kain putih sesuai pakem. Dengan ukuran yang berbeda, sesuai berat badan jenazah. (laz)

Jogja Raya