RADAR JOGJA – Gubernur DIJ, Hamengku Buwono (HB) X memastikan pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 lebih longgar. Tak hanya untuk sektor essensial tapi juga pelaku usaha non essensial. Pelonggaran kebijakan ini juga termasuk kebijakan penyekatan sejumlah ruas jalan.

HB X menuturkan keputusan ini berdasarkan evaluasi PPKM Darurat. Selain itu juga mendengarkan keluhan para pelaku usaha di Jogjakarta. Dengan tujuan sektor ekonomi tetap bisa berputar saat PPKM berlangsung.

“Dimungkinkan PKL bisa jualan tapi sampai jam tertentu, boleh buka. Sudah saya tandatangani keputusan gubernur (Instruksi Gubernur). Jualan kebutuhan sehari-hari tetap buka, tapi dimungkinkan bagi yang non jualan makanan juga buka tapi dibatasi,” jelas Gubernur DIJ, Hamengku Buwono (HB) X ditemui di Kompleks Kantor Kepatihan Pemprov DIJ, Senin (26/7).

Kebijakan ini juga berlaku untuk pelaku usaha kawasan Malioboro. Hanya saja ada skema khusus yang berlaku. Operasional kawasan Malioboro mengacu pada penyekatan ruas jalan.

Uji coba operasional telah berlangsung sejak 3 hari lalu. Dengan membuka sekat ruas jalan menuju kawasan Malioboro. Konsep yang ditawarkan adalah aktivitas perdagangan secara berkala.

“Memberi ruang untuk berjualan, kalau tutup tidak ada orang kesitu, jualan juga tidak ada yang beli. Kalau bisa ya ditutup lalu 2 hari pindah tempat lain tetap mengurangi mobilitas. Harapan saya masyarakat bisa mencari sesuap nasi,” kata HB X.

Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini menuturkan terkait kebijakan penyekatan ruas jalan tetap berlaku. Acuan yang digunakan adalah pengurangan mobilitas masyarakat. Sesuai dengan poin kebijakan PPKM oleh pemerintah pusat.

“Penyekatan tetap kami lakukan karena itu satu-satunya cara mengurangi mobilitas orang. Terimakasih kepada masyarakat waktu malam relatif turun. Tidak keluar dari kelurahan, tapi di kalurahan masih nonggo,”  ujar HB X.

Sekprov Pemprov DIJ, Kadarmanta Baskara Aji menjabarkan, beberapa poin PPKM terbaru. Untuk warung lesehan bisa makan ditempat. Hanya saja dibatasi 3 orang untuk setiap warung. Selain itu juga pembatasan konsumsi ditempat selama 20 menit.

Pihaknya juga telah menampung beberapa keluhan pelaku usaha. Termasuk keinginan operasional hingga pukul 23.00 WIB. Hanya saja keinginan tersebut belum bisa terkabulkan sepenuhnya.

“Warung sampai jam 20.00 WIB, PKL kemarin berharap sampai jam 23.00 WIB karena buka sore. Nantinya sama dengan Instruksi Mendagri. Saya mohon bersabar dulu, dibuka sampai jam 20.00 dengan ketentuan seperti itu,” katanya.

Terkait teknis buka tutup jalan masih dalam pembahasan. Operasional pelaku usaha tetap mengacu pada kebijakan tersebut. Tak hanya kawasan Malioboro tapi sentra usaha lainnya.

“Iya nanti jalan Solo (jalan Urip Sumoharjo) juga seperti itu. Pokoknya yang ada pelaku usahanya. Teknisnya masih diatur,” ujar Kadarmanta Baskara Aji. (dwi/sky)

Jogja Raya