RADAR JOGJA – Diecast atau mainan mobil kini tak hanya digemari anak-anak. Bahkan di kalangan orang dewasa. Peminat miniatur mobil ini terus tumbuh cukup pesat belakangan ini. Selain untuk koleksi, juga dijadikan sebagai objek foto. Seperti ditekuni penghobi diecast photography, Robet Koyanmar.

Pria yang berprofesi sebagai freelance graphic designer itu sudah menyukai dan mengoleksi diecast, khususnya hot wheels sejak TK. Maklum, sejak kecil ia memang begitu menyukai mainan jenis kendaraan.

“Terus makin gede mulai belajar, oh ternyata diecast ada mobil aslinya. Terus ada history dan desainer mobilnya juga, jadi saya semakin tertarik,” ujar Robet Kepada Radar Jogja, Jumat (23/7).

Bagi Robet, bermain diecast adalah aktivitas yang sangat menyenangkan. Selain bisa mengenal orang baru di komunitas, berbagai keseruan ditawarkan disana. Seperti fotografi, modifikasi, hingga balapan. “Kalau saya sih senang foto saja,” katanya.

Kebetulan, saat masih mengenyam pendidikan D3 di MSD Jogja jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) ada salah satu mata kuliah photography dasar. Salah satunya yakni still life. “Nah kebetulan toys masuknya ke still life, jadi ya sekalian saja buat ngerjain tugas,” terangnya.

Seni fotografi memiliki keunikan dan tingkat kesulitan tersendiri. Begitu juga dengan diecast photography. “Pada dasarnya ya sama saja kayak motret biasa. Cuma yang bikin sulit hot wheels kan kecil ya, gimana caranya itu hot wheels di foto jadinya kayak mobil beneran,” beber pria yang tergabung dalam komunitas Hot Wheels Photography (Hotphy) Jogja itu.

Menurut pria asal Sleman itu ada beberapa yang harus diperhatikan saat memotret diecast. Seperti mengatur pencahayaan, diafragma, point of interest (fokus atau titik utama). Kemudian angle atau sudut pengambilan, background, dan proporsi foto juga harus diperhatikan.

Saat membidik hot wheels kesayangannya, Robet biasanya menggunakan kamera handphone (HP). Karena menurutnya lebih simpel ketimbang memakai kamera DSLR (digital single lens reflect) atau mirrorles.

Saat ini Robet memiliki sekitar 300-an hot wheels. Bahkan dulu, koleksinya mencapai 1000-an mobil. Namun, karena dirasa terlalu banyak akhirnya ia memutuskan menjual sebagian koleksinya itu. “Yang saya sudah bosen ya saya jual karena kan hasilnya lumayan juga. Kalau tidak gitu bisa saja serumah isinya hot wheels semua,” ucapnya lantas tertawa.

Di pasaran, lanjut Robet, harga hot wheels bervariasi mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Tergantung merek, jenis mobil, hingga edisi mobil. “Yang jutaan biasanya ya edisi khusus atau limited, makanya mahal dan yang ada tanda tangan desainernya,” paparnya. (ard/bah)

Jogja Raya