RADAR JOGJA – Diskette atau floppy disk atau disket merupakan media penyimpanan data dengan sistem kerja magnetik disk. Disket terbungkus oleh plastik protektif tipis dan keras berbentuk kotak.

Dosen Teknik, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta Widyawan mengatakan, floppy memiliki arti fleksibel. Media penyimpanan ini sangat populer pada zamannya. Mulai marak digunakan di Indonesia pada 1990-an hingga era 2000-an.

Nah, untuk membaca data terdapat dua komponen utama, yaitu berupa disket dan driver-nya. Data dimasukkan ke dalam disket maupun drive-nya. Kemudian file yang tersimpan secara tersistem berubah dalam bentuk angka biner. Angka biner merupakan sistem bilangan basis dua dengan menggunakan lambang 0 dan 1. Bilangan ini menjadi landasan sistem bilangan berbasis digital.

“Data atau file itu terus dalam bentuk angka biner. Kemudian representasi itu diubah dalam bentuk magnetik,” ungkap Widyawan saat dihubungi Radar Jogja kemarin (23/7).

Wid, sapaannya, menjelaskan disket adalah media penyimpanan yang mengalami revolusi. Tidak hanya dari segi teknologi, melainkan juga kapasitas. Mulai dari kapasitas yang hanya mampu menyimpan data 8 inchi. Dengan kapasitas maksimal 100 kb. Lalu 5,25 inchi dan terus berkembang. Semakin kecil incinya semakin besar daya kapasitasnya.

Jenis ukuran floppy disk pun beragam. Terbanyak tampungan datanya mencapai 1,4-2,88 MB. Umumnya digunakan untuk menampung data berupa dokumen.

Kini teknologi penyimpanan terus berkembang. Bahkan semakin kecil bentuk fisiknya, semakin besar kapasitasnya. “Yang dulu hanya ukuran MB, kini sudah mencapai ratusan GB hingga ukuran tera,” katanya.

Media penyimpanan ini terus berevolusi. Mulai dari floppy disk, lalu muncul CD/DVD yang prinsip kerjanya menggunakan laser cahaya. Berkembang lagi secara elektronik menjadi flash disk, hard disk, kartu memori dan sebagainya. Yang terus mengalami perbaikan.

Kendati saat ini sangat jarang digunakan, bagi perusahaan yang masih memanfaatkan komputer lama. Dalam penyimpanan data, disket masih menjadi komponen penting. “Untuk menukar data relatif sudah tergantikan. Tapi, ya tetap ada legacy computer,” bebernya.

Umumnya floppy lebih ringkih. Rentan kerusakan fisik maupun data jika perawatannya kurang benar. Misalnya bagian dalam disket tergores atau kotor. Maka sangat berpengaruh pada saat membaca data. Lalu rentan jamur jika floppy tidak disimpan dengan baik.

“Teknologi berkembang mampu menyimpan data lebih banyak. Lalu juga lebih tahan terhadap kerusakan,” katanya.

Dikatakan, sebagai media penyimpanan data, floppy disk sewaktu-waktu juga dapat terkena virus. Kendati begitu, pada zaman ini antivirus untuk melindungi data sudah marak. Jika hal ini terjadi, maka dapat dibersihkan bagian trash read-nya. (mel/laz)

Jogja Raya