RADAR JOGJA – Wakil Komandan TRC BPBD DIJ Indrayanto tak menampik lonjakan kasus mortalitas pasien Covid-19 berdampak pada tim pemakaman dan pemulasaraan. Tercatat 2.126 jiwa meninggal dunia dari 20 Juni hingga 21 Juli 2021. Seluruhnya tentu menjalani pemakaman dengan protokol Covid-19.

Antisipasi telah dilakukan per wilayah. Berupa pembentukan tim pemakaman dan pemulasaran di masing-masing TRC BPBD wilayah. Jumlah ini masih bertambah dengan bergabungnya tim dari relawan, organisasi masyarakat hingga kesatuan Brimob.

“Kami sudah memulai memberdayakan Satgas desa. Meminta semua Satgas desa yang sudah aktif itu harus mempunyai tim pemulasaraan sama pemakaman,” jelasnya ditemui di Posko TRC BPBD DIJ, Jumat (23/7).

Supervisor Pusdalops BPBD DIJ ini memandang dukungan tim pemakaman dan pemulasaraan daerah sangatlah penting. Langkah ini guna mempercepat proses tindakan pasca medis. Terutama yang memerlukan perlakuan protokol Covid-19.

“Kami belajar pengalaman Sardjito yang ledakan 63 jiwa itu. Untuk mengurai itu 1 hari itu cuma dapat 46 dari pagi sampai sore. Begitu menginjak malam kami harus mengeluarkan sisanya, akhrinya harus dua hari,” katanya.

Dalam beberapa kasus, antrian pemakaman maupun pemulasaraan masih sering terjadi. Kondisi pertama adalah keluarga belum mendapatkan makam. Alhasil harus menunggu cukup lama.

Kondisi kedua adalah antrean di pemulasaraan. Dalam beberapa kasus, pasien Covid-19 meninggal dunia pagi hari namun baru mendapatkan tindakan pemulasaraan siang harinya. Lalu termakamkan pada malam hari jika terjadi kendala lokasi makam.

“Masalah-masalah ini masih kerap ditemui. Jadi ada kasus meninggal dunia pagi, malam baru bisa dimakamkan,” ujarnya.

Terkait lokasi pemakaman, Indra menuturkan, ada solusi per wilayah. Apabila tak bisa di perkampungan maka di makan khusus Covid-19. Dapat pula menggunakan lahan pemakaman milik pemerintah setempat atau Tempat Pemakaman Umum (TPU).

Kabupaten Sleman, lanjutnya, memiliki makam khusus Covid-19 di TPU Madurejo Prambanan. Begitupula Kabupaten Bantul, Kulonprogo dan Gunungkidul dengan TPU masing-masing. Sementara Kota Jogja memiliki 7 lokasi pemakaman yang tersebar di perkampungan.

“Kalau misal anak kos tidak dapat makam lalu harus bayar, ya sudah kami negosiasi dengan Dinas Sosial karena yang mengelola makamnya mereka. Lalu kalau makam kampung yang bayar, itu jadi tanggungan keluarga,” katanya. (dwi/ila)

Jogja Raya