RADAR JOGJA – Rumah Potong Hewan (RPH) Giwangan bekerja ekstra keras saat Idul Adha. Ini karena permintaan pemotongan hewan kurban meningkat drastis dibanding hari normal. Dari kapasitas maksimal 60 ekor sapi perhari menjadi 75 ekor sapi perhari.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja, Suyana menuturkan overload ini adalah imbas pembatasan pemotongan hewan kurban di perkampungan. Bertepatan dengan masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Alhasil warga memilih menyembelih di RPH Giwangan dari 21 hingga 23 Juli 2021.

“Kami agak memberanikan diri untuk membantu masyarakat. Lebih memberanikan diri untuk melayani masyarakat yang biasanya kapasitas RPH kami untuk sapi sekitar 60 ekor tapi kami beranikan bisa sampai 75 ekor setiap harinya selama tiga hari kedepan. Kalau kambing 80 ekor,” Suyana ditemui di RPH Giwangan, Rabu (21/7).

Alhasil, Suyana harus menerjunkan tambahan pasukan. Menarik sejumlah juru sembelih hewan di setiap wilayah untuk fokus di RPH Giwangan. Pemotongan berlangsung pada pukul 24.00 WIB hingga 09.00 WIB setiap harinya.

Total ada sekitar 60 personel yang bersiaga di RPH Giwangan. Untuk menghindari kelelahan, ada pembagian jadwal. Pembatasan waktu ini bertujuan agar tidak ada kendala selama penyembelihan hewan kurban.

“Suplemen jelas ada, disediakan oleh Baznas yang siaga di sini. Kami maksimalkan agar masyarakat itu tidak perlu memotong sendiri-sendiri sehingga masyarakat tidak terjadi kerumunan,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja, Suyana.

Walau begitu, Suyana mengakui tetap ada penyembelihan hewan kurban di perkampungan. Hanya saja jumlahnya tidak sebanyak 2020. Tercatat saat ini ada 320 titik penyembelihan yang tersebar di 14 Kecamatan.

Terkait penerapan protokol kesehatan, menjadi wewenang Satgas Covid-19 di tingkat Kecamatan. Sementara jajarannya fokus pada kesehatan hewan kurban. Pihaknya telah menyerahkan data titik penyembelihan guna fungsi pengawasan prokes.

“Tahun ini pendaftaran sudah online. Kemudian sudah tahu posisinya di google maps bisa lihat lalu dibagikan ke Kecamatan,” ujarnya.

Penerapan prokes di RPH Giwangan juga berlaku ketat. Seluruh juru sembelih dan petugas lainnya wajib menggunakan masker selama penyembelihan. Selain itu jumlah personel di dalam area penyembelihan juga dibatasi.

Kebijakan pembatasan kerumunan juga berlaku saat pengantaran hewan kurban. Mulai dari jam 13.00 WIB hingga 17.00 WIB setiap harinya. Rentang waktu ini juga bertujuan mengistirahatkan hewan kurban sebelum disembelih.

“Jadi sore datang,baru malamnya dipotong. Bukan datang terus dipotong. Ini juga bertujuan agar tidak stres. Kalau prokes sejak tahun lalu sudah berlaku,” katanya.(dwi/sky)

Jogja Raya