RADAR JOGJA – Pemkab Sleman telah mengaktifkan Rumah Sakit Darurat Khusus Covid-19 (RSDKC) Senin (19/7). RSDKC ini memanfaatkan RS Respati Jogjakarta yang berlokasi di Padukuhan Tajem, Maguwoharjo, Depok, Sleman. Kendati begitu, dari 50 bed yang tersedia, baru 10 bed yang dapat beroperasi.

“Yang siap baru 10 bed karena keterbatasan oksigen,” ungkap Kepala RSDKC Sleman dr Tunggul Birowo saat dikonfirmasi Radar Jogja kemarin (19/7). Di sisi lain karena SDM tenaga kesehatan (nakes) juga terbatas.

Tunggul merinci total SDM sementara ini ada 42 orang. Antara lain, dokter umum lima orang, dokter spesialis paru dan penyakit dalam dua orang, perawat atau bidan 12 orang. Lalu apoteker satu, di bagian gizi satu, administrasi umum lima orang, dan rekam medis empat orang.

“Analis laboratorium ada dua, pemulasara jenazah ada lima dan satpam lima orang,” tambah dr Tunggul yang juga kepala Seksi Registrasi Lisensi dan Mutu Pelayanan (Rekrimupel) Dinkes Sleman dan merangkap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Laboratorium Kesehatan Daerah (Kesda) Unit Pelaksana Teknis Dinkes Sleman ini.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengatakan, meski saat ini ketersediaan bed terbatas, diharapkan dapat membantu memberikan pelayanan bagi pasien Covid-19 bergejala sedang dan berat. Selain itu sebagai upaya antisipasi bed occupancy rate (BOR) pasien Covid-19 di RS di Sleman yang kondisinya penuh.
Masih tingginya penularan Covid-19 dan kebutuhan layanan perawatan RS menjadi tuntutan Pemkab Sleman untuk melakukan langkah-langkah strategis.

“Di antaranya dengan menyiapkan RS Darurat Covid-19 ini,” beber Kustini.
Dikatakan, keberadaan RSDKC tak lepas dari dukungan banyak pihak. Keberadaan 50 bed itu merupakan bantuan PT MAX Sleman senilai Rp 186 juta lebih. RS ini menyediakan layanan rawat inap dan instalasi gawat darurat (IGD) khusus Covid-19.

Kini RSDKC mulai dapat beroperasi sejak diresmikan Senin (19/7). Untuk mendapatkan pelayanan di RS ini, pasien harus melalui rekomendasi atau rujukan dari fasilitas kesehatan pertama. Yakni melalui puskesmas. Untuk mendukung fasilitas pelayanan ini, RSDKC juga dilengkapi satu unit ambulans.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Joko Hastaryo menambahkan, RSDKC telah disiapkan selama tiga minggu. Semenjak RS mulai mengalami krisis BOR untuk merawat pasien, khususnya Covid-19.

Joko menyebut, ada 100 bed di RSDKC yang siap digunakan. Akan tetapi dengan keterbatasan itu, maka akan dibuka dua tahap. Masing-masing 50 bed.
Dikatakan, untuk menambah SDM nakes dan tenaga lainnya, pihaknya telah membuka rekrutmen sejak awal Juli. Kendati begitu hingga batas waktu ketentuan, tenaga yang mendaftar masih minim. “Untuk perawat sebetulnya masih kurang, tapi rekrutmen sudah berakhir. Jadi sementara seadanya dulu,” ujar Joko.

Sebelumnya Joko menyampaikan, ideal nakes untuk melakukan perawatan pada satu pasien Covid-19 di RS sebanyak empat sampai lima orang setiap shift. Terdiri satu dokter dan tiga perawat. Dalam sehari paling tidak dilakukan tiga shift. “Jadi kalau ditotal paling tidak ada 12 nakes dalam sehari memantau pasien,” katanya. (mel/laz)

Jogja Raya