RADAR JOGJA – Guna menekan munculnya kerumunan warga. Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti tak mengijinkan penyembelihan hewan kurban Idul Adha di wilayah perkampungan. Baik saat pemotongan hewan kurban maupun antrian pembagian daging hewan kurban.

Haryadi memastikan kebijakan ini telah melalui kajian matang. Pihaknya tak ingin muncul klaster Covid-19 saat proses penyembelihan hewan kurban. Dia meminta masyarakat bijak menyikapi aturan ini.

“Di masing-masing kelompok masyarakat basis RW atau kelurahan tidak kami ijinkan, karena situasi masih tidak memungkinkan. Penyembelihan sudah pasti kerumunan, kemudian pemrosesan pasti banyak orang,” jelasnya ditemui usai meninjau vaksinasi di SMPN 8 Jogja, Senin (19/7).

Pemkot Jogja, lanjutnya, memiliki alasan kuat atas kebijakan ini. Berupa melonjaknya kasus Covid-19 dalam sebulan terakhir. Ditambah lagi adanya varian delta yang terdeteksi di wilayah Jogjakarta.

Walau begitu, pihaknya tak melarang sepenuhnya. Penyembelihan di perkampungan bisa berlangsung dengan sejumlah catatan. Paling utama adalah mengantongi ijin dari Satgas Covid-19 atau pemerintah Kecamatan setempat.

“Minta ijin dulu ada prosesnya ke wilayah sampai kecamatan. Prosesnya sangat ketat, orangnya tidak berkerumun, baik penyembelihan, pemotongan dan pembagian daging kurban,” kata Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti.

Pemkot Jogja juga memberikan solusi berupa penyembelihan di rumah pemotongan hewan (RPH) Giwangan. Pelayanan pemotongan hewan kurban berlangsung dari 21 hingga 22 Juli 2021. Khusus untuk melayani penyembelihan hewan kurban dari warga Kota Jogja.

“Tapi sekalilagi jangan masyarakat tidak berkorban, tetap wajib berkurban bagi yang mampu. Untuk RPH akan dioptimalkan terbuka meski terbatas kapasitasnya. Kalau perlu buka 24 jam dengan shift agar tarikan sembelih bisa lebih banyak lagi,” ujar Haryadi Suyuti .(dwi/sky)

Jogja Raya