RADAR JOGJA – Ketua Srikandi Pemuda Pancasila DIJ Yuni Astuti angkat bicara soal sebuah video seorang personel Satpol PP di Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan memukul pasangan suami istri pemilik warung saat operasi PPKM Darurat yang viral di media sosial. Peristiwa dalam video tersebut terjadi pada Rabu (14/7) yang lalu.

Menurutnya aksi kekerasan yang dilakukan oleh Satpol PP kepada seorang perempuan pemilik warung di Gowa ini tidak sepantasnya terjadi.

Yuni Astuti menyebut, sebagai abdi negara seharusnya Satpol PP mengedepankan langkah-langkah persuasif dalam menjalankan tugas. Yuni menilai sudah bukan zamannya lagi aparat negara bersikap arogan kepada masyarakat.

“Saya menyayangkan aksi kekerasan kepada seorang perempuan yang dilakukan oleh anggota Satpol PP itu. Tak pantas seorang perempuan diperlakukan seperti itu,” kata Yuni Astuti, Sabtu (17/7).

Yuni menjelaskan kasus kekerasan ini harus diproses hukum. Jangan kemudian dibolak-balik isunya. Perempuan yang dipukul dibilang bohong karena tidak hamil.

“Hamil tidak hamil perempuan harus tetap dilindungi, apapun alasannya,” tegas Ketua Srikandi Pemuda Pancasila DIJ ini. Yuni Astuti yang sempat viral karena aksi bagi-bagi uang dari atas mobil Hummer ini menuturkan, bahwa pendekatan dengan arogansi kekuasaan di masa PPKM Darurat tidak tepat dilakukan.

“Pada masa PPKM Darurat, masyarakat sudah susah jangan lagi disusahkan dengan penertiban-penertiban yang berbau kekerasan dan arogansi.” ujar Yuni Astuti.

Model-model penegakan aturan dengan arogansi kekuasaan itu sudah tidak zamannya lagi. Gunakan pendekatan yang persuasif dan humanis, dari hati ke hati agar pesannya bisa sampai ke masyarakat.

“Banyak contohnya anggota Satpol PP dan anggota polisi di daerah lain yang pakai pendekatan humanis. Di masa pandemi Covid-19 ini seharusnya pemerintah dan masyarakat bergandeng tangan dan bergotong royong untuk sama-sama mengatasinya,” ucap Ketua Perindo DIJ. (om2/sky)

Jogja Raya