RADAR JOGJA – Sejumlah pedagang hewan kurban yang semula khawatir terhadap kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, dapat bernafas lega. Sebab, kebijakan yang berjalan 12 hari ini tidak begitu berdampak pada penjualan ternak kurban.

Hal itu dirasakan Supri, 56, penjual sapi di Pasar Sapi Ambarketawang, Gamping, Sleman, kemarin (15/7). Dia mengaku, sempat khawatir lantaran PPKM darurat berjalan cukup ketat. Bahkan dia mengkhawatirkan, penjualan saat ini bakal ambruk dari pandemi tahun lalu. Namun nyatanya, peminat di DIJ masih tinggi. ”Sebulan ini rumayan penjualannya. Setiap pasaran bisa laku dua sampai tiga ekor sapi dari empat ekor yang saya bawa,” ujar Supri warga asal Pleret, Bantul saat di lokasi, kemarin (15/7).

Pasaran yang dia maksud, setiap pahing sesuai jam buka pasar Ambangketawang itu. Terakhir Pahing lalu, 10 Juli sapi miliknya habis diborong untuk kurban. Dan paling kenceng penjualan atau transaksi dilakukan di rumahnya, Pleret. ”Peminatnya masih sama. Pelanggan biasanya,” jelasnya.

Untuk harga, dikatakan tahun lalu satu ekor sapi lamosin semi po (peranakan ongol, red) masih ada yang dibawah Rp 20juta. Kini harganya naik mencapai Rp 22 juta. ”Harga sapi naik, menyesuaikan kondisi korona,” jelasnya.

Terkait dengan kesehatan hewan ternak miliknya, dia jaga juga agar nasfsu makannya semakin bertambah menuju penyembelihan. Ketika disembelih harapannya dagingnya kekal.

Pedagang lainnya, Suparjo, 63, warga Galur, Kulonprogo mengatakan, peminat ternak kurban di Jogja masih tinggi dibandingkan di wilayahnya, Kulonprogo. Banyaknya warga yang melakukan isolasi mandiri menyebabkan terjadinya pengurangan penyembelihan. Misalnya saja satu masjid dulu bisa dua sampe tiga ekor sapi kini hanya satu ekor ditambah domba. ”Di rumah sepi peminat. Ini tadi bawa empat, laku satu di Pasar Sapi ini. Pembeli di minggu ke tiga ini mulai sepi,” ujar Suparjo.

Lain halnya pedagang domba, Eko Pramono  warga Sedayu, Bantul. Pria paruh baya itu belum menjual banyak dombanya. Menurutnya, hari raya kurban tahun ini peminat domba jauh lebih rendah dibandingkan sapi. ”Kalau harga domba sekitar Rp 3 juta per ekor. Hari ini belum ada yang terjual,” bebernya.

Begitu pula di Kulonprogo. Salah satu penjual sapi kurban di Kulonprogo Olan Suparlan mengatakan, tingkat penurunan penjualan hewan kurban di kandang miliknya disebut bisa mencapai 20 persen. Penurunan itu disebabkan karena banyak masyarakat terdampak ekonominya akibat penerapan PPKM darurat.

Pemilik penyedia sapi kurban UD. Mulyo Slamet ini menerangkan, penurunan penjualan sapi kurban di tahun ini bisa mencapai sekitar 30 ekor dibandingkan tahun lalu. Dimana pada Idul Adha 2020 lalu pihaknya mampu menjual 150 ekor sapi, sementara untuk tahun ini hanya laku sekitar 120 ekor saja.

“Karena sebagaimana kita ketahui ekonomi masyarakat saat ini tengah terpuruk,” ungkap Olan. (mei/inu/bah)

Jogja Raya