RADAR JOGJA – Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan,  Muhadjir Effendy menilai Jogjakarta percontohan ideal pembangunan shelter Covid-19. Mulai dari perkampungan hingga lingkungan akademisi ikut andil menangani pandemi. Sehingga peran ini tak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini sempat mendatangi salah satu shelter medio Februari 2021. Saat itu shelter berdiri atas inisiasi warga dan pemerintah setempat. Tujuannya untuk menampung warga yang terkonfirmasi positif Covid-19.

“Secara umum Jogjakarta justru mempelopori gerakan pembangunan shelter. Februari kesini dan mengecek shelter perintis warga sudah bagus. Itu sudah ideal dan nuansa gotong royongnya kental,” jelas Muhadjir Effendy saat meninjau shelter University Club (UC) UGM, Jumat (16/7).

Melihat semangat ini, Muhadjir optimis Jogjakarta siap menghadapi lonjakan kasus Covid-19. Terlebih keguyuban masyarakat yang sangat kental. Menurutnya, nilai inilah yang sangat penting di tengah pandemi Covid-19.

Penanganan Covid-19, lanjutnya, tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah. Secara umum, masyarakat memiliki peran yang tak kalah penting. Untuk bersama-sama menekan dan menanggulangi sebaran Covid-19.

“Keguyuban masyarakat menginisiasi adanya shelter, lalu kemampuan kesiapan masyarakat untuk guyub rukun dengan pemerintah daerah itu juga penting,” kata Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan,  Muhadjir Effendy.

Muhadjir turut mengapresiasi peran civitas akademik di Jogjakarta khususnya UGM. Berupa pengalihfungsian beberapa bangunan menjadi shelter pasien Covid-19. Mulai dari asrama mahasiswa hingga hotel yang dikelola oleh pihak kampus.

Dia berharap gerakan ini dapat menjadi contoh kampus lainnya. Tujuannya agar mampu menampung pasien Covid-19. Terutama yang memiliki gejala ringan.

“Memanfaatkan rusunawa, asrama mahasiswa untuk shelter, lalu hotel kampus juga jadi shelter. Semakin banyak shelter akan meringankan beban rumah sakit,” ujarnya.

Shelter, lanjutnya, dapat mengurangi bed occupancy rate (BOR) di rumah sakit. Pasien dengan gejala ringan atau mendekati sembuh dapat dipindah ke shelter. Sementara tempat tidur di rumah sakit menjadi skala prioritas bagi pasien bergejala sedang hingga berat.

Dia meyakini skema ini dapat mengoptimalkan penanganan medis. Pasien dengan kondisi kritis mendapatkan skala penanganan medis utama. Selain itu juga meminimalisir penumpukan pasien Covid-19 di rumah sakit.

“Jangan semua langsung dibawa ke rumah sakit. Shelter ini bisa fungsi untuk membatasi agar tidak semua pasien ke rumah sakit atau mendekati sembuh tinggal menunggu perkembangan bisa dipindah ke shelter,” kata Muhadjir Effendy. (dwi/sky)

Jogja Raya