RADAR JOGJA – Kasus positif Covid-19 di DIJ terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini dirasa perlu untuk menyiapkan rumah sakit darurat untuk mengurangi beban rumah sakit (RS) rujukan pasien korona.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DIJ Pembajun Setyaningastutie menuturkan, sementara ini ada empat lokasi yang diusulkan untuk dijadikan RS lapangan. Namun agar dapat beroperasi secara optimal, seluruhnya harus memiliki RS pengampu terlebih dahulu.

“Rumah sakit ini harus ada pengampu. Seperti RS lapangan di Bantul, tandemnya itu RSUD Bantul. Harapan kami, RS yang berdiri nanti ada tandemnya dari RS yang mengampu,” terangnya dalam sesi jumpa pers secara daring kemarin (15/7).

Lebih lanjut Pembajun menjelaskan, saat ini baru ada satu rumah sakit yang bersedia menjadi pengampu, yakni Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM. Rumah sakit ini memiliki sejumlah aset yang bisa dimanfaatkan menjadi RS lapangan. Di antaranya bangunan Hotel Gadjah Mada University Club (UC) dan Wisma Kagama.

Sementara ini, kedua bangunan tersebut memang sudah dimanfaatkan sebagai selter isolasi pasien Covid-19. Namun dalam waktu dekat akan dikembangkan menjadi RS lapangan.

“RSA UGM bisa menyiapkan 500 TT (tempat tidur). Mungkin juga nanti ada Wisma Karanggayam akan dipakai RS lapangan. Akan dikelola Pak Direktur RSA UGM,” terangnya.

Adapun untuk tiga RS lapangan lainnya, Dinkes DIJ masih berupaya mencari pengampu. Tiga lokasi itu meliputi Gedung Pusdiklat PU di Jalan Ngeksigondo, Asrama Mahasiswa UNY, dan Rusun ASN BBWS.

Dengan adanya penambahan RS lapangan tersebut, kapasitas tempat tidur untuk menangani pasien Covid-19 di DIJ bisa bertambah sekitar 800 bed. Selain itu, dalam waktu dekat Pemprov DIJ bakal memiliki satu RS lapangan yang akan segera beroperasi.  Yakni RS Medika Respati di Sleman yang diampu RSUD Prambanan. Kapasitasnya sekitar 50 tempat tidur.  “Hari Sabtu mudah-mudahan RS Respati di Sleman, katanya menurut informasi akan diresmikan,” jelasnya.

Dengan adanya penambahan itu, diharapkan beban 27 RS rujukan Covid-19 di DIJ dapat berkurang. Sebab, tingkat keterisian RS saat ini memang mengkhawatirkan. Yakni di atas 95 persen.

Pembajun juga menekankan, berapa pun banyaknya rumah sakit ditambah tidak akan cukup jika kesadaran menjaga protokol kesehatan (prokes) dari masyarakat tidak ditingkatkan. “Jadi saya mohon, kedisiplinan itu bisa dijaga,” harapnya.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIJ Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk membangun rumah sakit (RS) darurat penanganan Covid-19. Direncanakan ada tiga tempat yang akan dijadikan RS lapangan di DIJ.

“Sudah ada dialog juga dengan menteri PUPR, beliau akan bantu menyiapkan tiga tempat. Di rumah susun untuk ASN-nya BPWS di Ringroad Utara, juga Asrama mahasiswa UGM dan UNY yang dibangun Kementerian PUPR,” kata Aji.

Pihaknya juga sudah meminta tambahan untuk tenaga kesehatan (nakes) dan peralatan jika nantinya RS lapangan ini dioperasikan. Pasalnya, DIJ sendiri memiliki keterbatasan SDM untuk mengoperasikan tiga RS lapangan ini.

“Kami juga minta bantuan terkait dengan nakes dan peralatan agar nanti layak menjadi RS lapangan,” tandas mantan kepala Disdikpora DIJ ini. (kur/laz)

Jogja Raya