RADAR JOGJA – Dua anak warga Melikan Lor, Gandekan RT 04, Kalurahan Bantul, Kapanewon Bantul, kini jadi yatim piatu. Setelah kedua orang tuanya meninggal akibat terpapar Covid-19. Mereka adalah Ranu dan Rani, yang masih menjalani isolasi mandiri (isoman) karena turut terinfeksi.

Ketua Satgas Covid-19 Kalurahan Bantul Kuswandi membenarkan adanya dua anak di wilayahnya yang menjadi yatim piatu. Kronologi berawal dari sang ayah, berinisial T, 44, yang mengalami penurunan kondisi tubuh pada Jumat (9/7). T memiliki komorbid gangguan syaraf otak. “Waktu itu kisaran pukul 15.00, T swab antigen dan dinyatakan positif,” bebernya saat dihubungi Radar Jogja kemarin (15/7).

Dijelaskan, sebelumnya T menjalani dua kali swab antigen dengan hasil negatif. Kemudian selang beberapa jam, dilakukan kembali swab antigen yang menyatakan T positif terpapar Covid-19. Saat itu T menjalani isoman. Tapi keadaan tubuhnya terus menurun sampai akhirnya meninggal dunia. “Rekomendasi Puskesmas II dimakamkan secara prokes. Kami lakukan,” sebutnya.

Keesokan harinya, istri T dan kedua anaknya menjalani swab antigen di puskesmas, Sabtu (10/7). Ketiganya dinyatakan positif terpapar Covid-19. Kemudian ketiganya diantar ke Selter Kapanewon Bantul di Kalurahan Sabdodadi.

“Terus perawatan, tidak ada gejala. Tapi Rabu pagi (14/7), si ibu mengalami penurunan yang luar biasa, drop napas tersengal. Pukul 07.00 gagal napas dan dinyatakan meninggal dunia,” tuturnya.

Peristiwa itu disebut Kuswandi sangat menyedihkan. Sebab, almarhum T dan istrinya, almarhumah CW, 52, meninggalkan dua anak. “Rani itu perempuan dan Ranu masih kelas 4 SD, cowok. Ini sangat menyayat hati kami. Karena kondisi mereka juga tidak seberuntung yang lain. Luar biasanya, ibunya aktivis di Bantul dan kader yang hebat,” ungkapnya.

Kondisi Ranu dan Rani saat ini masih positif Covid-19. Keduanya diperkenankan oleh Satgas untuk menyaksikan prosesi pemakaman ibunya. “Kami keluarkan dari selter, biar melihat ibuke. Walaupun (pemakaman, Red) prokes,” ujarnya.

Lepas itu, Ranu dan Rani diperkenankan menjalani isoman di rumah. Sebab, masa isolasi keduanya masih sekitar dua minggu. “Selama dua minggu tetap isolasi. Paling tidak 12 hari ke depan. Kami sudah menjenguk untuk sekedar memberikan wujud tali asih berupa sembako. Kami juga berharap ada warga yang turut terketuk,” ucapnya.

Ranu dan Rani sebetulnya masih memiliki anggota keluarga. Namun perekonomiannya sama lemahnya dengan keluarga Ranu dan Rani. “Sehingga kami tidak dapat berharap dengan anggota keluarga yang lain. Bagi warga yang ingin membantu bisa ke rumah duka, karena mereka isolasi di rumah,” ungkapnya.

Dibeberkan pula, kondisi penularan Covid-19 di Kalurahan Bantul cukup parah. Sebab dapat pastikan, tiap RT ada yang terpapar. Kendati hanya dua RT yang masuk zona merah. Sementara itu, selter yang menaungi Kalurahan Bantul sudah terisi sekitar 25 orang.

Sebelumnya, Pemkab Bantul menggelontorkan Rp 1,3 miliar untuk membantu penanganan Covid-19 yang diselenggarakan oleh 75 desa di Bumi Projotamansari. Dana diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bantul pos belanja tidak terduga (BTT).

“Kami tetapkan angka flat pembagiannya Rp 10 juta per kalurahan, ditambah proporsional sesuai jumlah penduduk. Sehingga yang jumlah penduduknya lebih banyak, akan mendapat lebih,” jelas Kuswandi. (fat/laz)

Jogja Raya