RADAR JOGJA – Menjelang Idul Adha  2021 Pemprov DIJ memprediksi jumlah hewan kurban berkurang 2,5 persen hingga 5 persen. Salah satu penyebabnya adalah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Berupa pembatasan kegiatan masyarakat dalam rangka menekan angka sebaran Covid-19.

Plt Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan SDA Setprov DIJ Ni Made Dwipanti Indrayanti menuturkan pemantauan akan terus berlangsung. Terutama kepada penjual hewan ternak dadakan. Khususnya yang membuka lapak di beberapa ruas jalan.

“Kalau hipotesa kami ada penurunan 2,5 persen hingga 5 persen. Penjualan hewan ternak di ruas-ruas atau mungkin yang dadakan ini sudah tidak ada lagi karena sangat-sangat dibatasi pergerakan masyarakat. Kalaupun ada, terpusat di pasar hewan ternak,” jelasnya dalam jumpa pers daring, Senin (12/7).

Permasalahan lain adalah menurunnya titik pemotongan hewan kurban. Hasil pendataan sementara ada 6.096 titik pada Idhul Adha 2021. Sebagai perbandingan tahun lalu mencapai 8.293 titik.

“Kami juga mendapatkan data ada lonjakan harga daging sapi. Saat ini perkilo antara Rp 120 ribu hingga Rp 125 ribu. Padahal jumlah konsumsi saat ini cenderung turun,” katanya.

Walau begitu, Made memastikan tidak ada pelarangan distribusi hewan kurban. Pihaknya juga telah mendirikan sejumlah pos pengawasan lalulintas hewan kurban. Berada di sejumlah perbatasan Jawa Tengah dengan Jogjakarta.

Setidaknya ada tiga titik pengawasan hewan kurban. Mulai dari perbatasan di wilayah Kabupaten Sleman, Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Gunungkidul. Pos berada di jalur strategis sehingga seluruh kendaraan pengangkut hewan kurban dapat terpantau.

“Pos-pos pengawasan ada di Kulonprogo seperti di Kalibawang dan Jangkaran. Kalau yang di Sleman ada di Ngemplak, Tempel dan Cungkuk Kidul. Sedangkan di Gunungkidul ada di Ponjong dan Ngawen,” ujarnya.

Peran dari pos pengawasan adalah memeriksa surat keterangan kesehatan hewan (SKKH). Terdiri dari sertifikat veteriner dan identitas pengirim. Selain itu juga ada pemeriksaan fisik hewan kurban.

Belajar dari kasus tahun lalu, sempat muncul wabah antraks. Terdeteksi di wilayah Kabupaten Gunungkidul dan Bantul. Beberapa hewan ternak sempat dipotong dan dikonsumsi warga.

“Ini untuk menjamin hewan yang masuk ke Jogjakarta ini benar-benar aman dan sehat. Kami tidak ingin kejadian lalu (antraks) terulang. Jadi memang dipastikan dulu telah terverifikasi,” katanya.(dwi/sky)

Jogja Raya