RADAR JOGJA – Ditengah melonjaknya kasus Covid-19, oksigen tabung menjadi barang yang berharga dan langka. Mayoritas untuk digunakan kepada pasien Covid-19 isolasi mandiri. Baik untuk tabung berkapasitas 1.000 liter maupun 6.000 liter.

Plt Lurah Donoharjo, Kapanewon Ngaglik Sleman Anang Patri mengaku harus berburu lintas wilayah. Timnya sempat mendatangi sejumlah penjual eceran namun sia-sia. Hingga akhirnya mendapatkan informasi ketersediaan oksigen di salah satu apotek kawasan jalan Brigjen Katamso Kota Jogja.

“Ini saya antri dari jam 08.00 pagi baru dapatĀ  siang ini (11.00 WIB). Memang sedang susah carinya. Untuk kebutuhan warga kami yang melakoni isolasi mandiri di rumah,” jelasnya ditemui di halaman parkir apotek, Selasa (13/7).

Penantian Anang dan timnya tak sia-sia. Setelah berputar-putar Jogjakarta akhirnya mendapatkan jatah pengisian 6.000 liter oksigen. Tabung besar itu nantinya untuk memenuhi sekitar 10 warga. Kondisi kesehatannya mengalami sesak nafas.

Tabung besar, lanjutnya, akan didistribusikan ke tabung-tabung kecil. Setelahnya didistribusikan ke rumah warga yang menjalani isolasi mandiri. Kapasitas tabung besar bisa bertahan hingga 2 hari dengan pemakaian wajar.

“Yang sesak nafas itu hampir sekitar 10an yang perlu penanganan. Kalau kasus hampir setiap padukuhan ada. Sudah menyebar,” katanya.

Anang menuturkan peningkatan penggunaan tabung oksigen terjadi sejak pertengahan Juni. Tepatnya saat lonjakan kasus Covid-19 terjadi di Jogjakarta. Rata-rata warganya mengalami penurunan saturasi oksigen secara drastis.

“Harus perlu pakai oksigen. Makanya kami berusaha mencari terus. Setelah ini masih cari lagi. Ada rencana beli alat yang untuk langsung oksigen itu, tapi kan mahal itu,” ujarnya.

Perangkat Kalurahan Panggungharjo Sewon Bantul Rosade Athan juga berburu oksigen tabung. Kelangkaan oksigen mulai dirasakan sejak Senin (12/7). Kondisi semakin langka pada hari berikutnya.

Oksigen tabung, lanjutnya, akan disiagakan di shelter Kalurahan Panggungharjo. Untuk membackup para warga yang membutuhkan oksigen. Termasuk para warga yang menjalani isolasi mandiri di rumah.

“Kalau pasien saat ini di shelter kami ada sekitar 25 orang. Tapi yang di rumah-rumah banyak juga yang membutuhkan oksigen,” katanya.

Athan tak bisa memprediksi habisnya isi tabung oksigen. Ini karena tergantung penggunaan dan kebutuhan. Jika tergolong tinggi maka akan cepat habis.

“Kalau penggunaannya banter ya cepet habis. Tapi kalau pasien sedikit yang menggunakan ya otomatis sedikit juga. Tergantung penggunaan saja,” ujarnya.

Tak hanya shelter, antrian juga diisi warga individual. Seperti Nur, 43, yang mengantri untuk salah satu anggota keluarganya. Warga Tegalrejo Kota Jogja ini telah berburu oksigen sejak jam 07.00 WIB. Sempat mencari hingga Kabupaten Sleman dan akhirnya mendapatkan informasi di apotek kawasan jalan Brigjen Katamso Kota Jogja.

“Ada pasien di rumah isolasi mandiri. Iya keluarga. Sudah dapat tinggal nunggu dipanggil. Harga tabung beda-beda, kalau isi ulang Rp 50 ribuan,” katanya. (dwi/sky)

Jogja Raya