RADAR JOGJA- Seiring melonjaknya kasus Covid-19 di Jogjakarta, permintaan rempah-rempah jamu meningkat.  Peningkatan mulai terjadi sejak dua pekan lalu. Kondisi ini terlihat di beberapa los jamu di Pasar Beringharjo.

Salah satu pedagang rempah-rempah, Rika Astuti menuturkan lonjakan penjualan sudah terjadi menjelang akhir Juni 2021. Tak hanya pedagang jamu, pembeli juga datang dari warga biasa. Pembelian mulai kemasan kecil hingga kulakan.

“Iya ada peningkatan sekitar 2 mingguan ini. Permintaan tertinggi jahe merah, bawang tunggal dan empon-empon seperti kunyit putih. Bilangnya buat imun tubuh,” jelasnya ditemui di lapak jamu Bu Eko, Senin (5/7).

Tak sekadar berjualan, Rika juga memberikan informasi tentang kegunaan rempah-rempah. Beragam empon-empon memiliki khasiat meningkatkan daya tahan tubuh. Seperti temulawak, kunyit, jahe, temu giring, puyang, bangle dan temu mangga.

“Lalu jahe buat badannya hangat dan enggak gampang masuk angin dan melancarkan peredaran darah. Terus serai, kapulaga, cengkeh, kayu manis agar tak sesak nafas,” katanya.

Walau terjadi peningkatan penjualan, Rika memastikan tak ada lonjakan harga. Rempah-rempah masih dijual dengan harga yang wajar dan sama. Seperti jahe merah diharga Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu dan kisaran Rp 10 ribu untuk empon-empon.

Bedanya hanya proses melayani pembeli. Peningkatan kasus Covid-19 ternyata jadi pertimbangan. Rika memilih untuk mengurangi kontak fisik secara langsung.

“Kalau datang kesini, ya dilayani dengan cepat lalu jaga jarak. Terus juga sudah melayani online, nanti diantar COD (cash on delivery),” ujarnya.

Disatu sisi, Rika menuturkan permintaan tidak setinggi awal pandemi. Kala itu dia sempat kehabisan stok rempah-rempah. Baik yang masih segar, kering maupun olahan.

“Awal pandemi dulu sempat sampai habis. Kalau sekarang ini sekitar separuhnya. Mungkin banyak yang beralih ke vitamin juga,” katanya.(dwi/sky)

Jogja Raya