RADAR JOGJA – Angka lonjakan kasus positif harian Covid-19 di DIJ hingga akhir Juni ini belum terkendali. Beberapa RS rujukan mulai kewalahan. Penambahan tenda darurat untuk pasien pun penuh. Hingga mendirikan tenda darurat baru.

Seperti yang terjadi di RSUP dr Sardjito Jogja. Tenda darurat bantuan BNPB yang dipasang di halaman RS sudah penuh terisi pasien. Mereka adalah yang tidak mendapatkan ruang di dalam RS. Bahkan RSUP dr Sardjito meminta untuk pendirian tenda darurat kedua.

Kasubag Hukum dan Humas RSUP dr Sardjito Jogja Banu Hermawan mengatakan, kondisi pasien Covid-19 saat ini mengantre mendapatkan ruang isolasi cukup banyak. Hingga pihaknya mendirikan dua tenda darurat untuk mengantisipasi tingginya lonjakan pasien covid. Tenda yang sudah terpasang, bantuan badan nasional penanggulangan bencana (BNPB) kapasitas 12 bed terisi oleh pasien transit yang menunggu kesiapan ruang rawat “Sekarang tambah tenda putih untuk berteduh keluarga pasien yang menunggu atau mengantar, juga antisipasi jika terjadi lonjakan kasus covid,” ungkapnya, kemarin (30/6).

Di Sleman saja, bed occupancy ratio (BOR) RS tidak mampu menampung semua pasien covid-19. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengatakan, sampai kemarin (30/6), terdapat 1.075 pasien Covid-19 yang di rawat RS di Sleman. Sementara itu, kapasitas non kritikal mencapai 618 bed. Untuk kritikal ada 67 bed. Atau hampir 700 bed.

Jumlah ini sangat terbatas. Baru setengahnya dari total pasien. Sehingga diluar kapasitas bed yang dimiliki, warga Sleman banyak yang dirawat di RS luar kabupaten. Karena cangkupan bed tak cukup, maka tak sedikit yang mengantri. Hingga terjadilah keterlambatan dalam penanganan pasien. “Karena kalau dilihat dari gejalanya ini tidak pada tahapan, ringan, sedang, berat dan kritis. Sekarang ini persebaran lebih cepat, dari gejala ringan langsung berat,” ungkap Joko saat jumpa pers virtual, kemarin.

Untuk mengatasi hal tersebut pihaknya berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dalam menyiapkan rumah sakit darurat lapangan yang rencananya akan memanfatkan RSA UGM. Lepas dari itu, keterbatasan nakes dan ketersediaan ruang yang minim ini, terpaksa mereka menjalani isoman. Sehingga tidak sedikit pasien terpapar, meninggal dunia (MD). “Ada 145 kasus positif Covid-19 yang MD selama bulan ini hingga 29 Juni,” imbuhnya.

Joko membeberkan, sesuai kementrian kesehatan (kemenkes) gejala kritis itu dapat diketahui dengan cara mengukur desaturasi oksigen. Jika angkanya 90 persen, masuk gejala berat. Di bawah 90 persen, masuk kritis. Dijelaskan nafas normal dalam satu menit 22 kali hembusan. Di antara 22 sampai 30 kali per menit, masuk kriteria nafas sedang. Untuk 30 ke atas, termasuk berat dan 40 kali ke atas berarti sudah kritis.

“Ngitungnya mudah sekali jadi cuma meletakkan jari di depan lunang hidung, itu kalau hembusan nafasnya dihitung tidak sampai satu menit saja, berapa kali. Kalau lebih dari 15 kali itu sudah masuk gejala berat,” kata dia. Jika dibantu dengan nafas dari mulut tidak menutup kemungkinan itu gejala sedang dan berat. Iti tidak seperti gejala normal, saat awal pandemi covid. Yang mana ini dapat menjadi indikasi virus varian baru. Diperkuat vase gejala.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan menuturkan, telah menemukan beberapa kasuistik warga yang MD saat menjalani isolasi mandiri (Isoman). Mayoritas lansia dan sebagian usia produktif. Rerata memiliki riwayat komorbid sedang hingga berat. Disebutkan, dalam sebulan ini per 29 Juni, jumlah warga meninggal dunia saat isoman mencapai puluhan. ”Ada 36 temuan,” ungkap Makwan. (mel/pra)

Jogja Raya