RADAR JOGJA – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda DIJ meringkus dua orang berinisial GS penjual burung Nuri Maluku atau Red Loti dan EP penjual Lutung Budeng Hitam karena memperdagangkan satwa dilindungi.

Wadirreskrimsus Polda DIJ,  AKBP FX.Endriadi menuturkan, kedua tersangka ditangkap dengan metode yang sama. Polisi melakukan penyamaran untuk bertransaksi. Hingga bisa didapatkan barang bukti satwa yang dilindungi dari kedua tersangka.“Burung Nuri Maluku ini dijual melalui media sosial dengan harga Rp 1 juta. Didapatkan dari daerah Jawa Timur lalu dijual di Jogjakarta,” jelasnya di Mapolda DIJ, Rabu (30/6).

Dalam bertransaksi, pelaku GS menawarkan burung Nuri Maluku melalui media sosial Facebook. Hingga akhirnya unggahan ini terlacak oleh penyidik Ditreskrimsus Polda DIJ. Hasil pemeriksaan sementara pelaku tak hanya menjual satu satwa.

Penyidik, lanjutnya, langsung mendatangi kediaman pelaku GS. Di tempat tersebut didapatkan barang bukti lainnya. Tercatat ada delapan ekor burung yang tergolong satwa dilindungi.“Semua burung ini datang dalam kondisi sakit awalnya. Dibeli dengan harga dibawah Rp 1 juta per ekor. Setelah sembuh lalu dipasarkan lagi dengan harga antara Rp 1 juta sampai Rp 2 juta,” katanya.
Tak selang lama, polisi juga mengamankan EP. Sosok ini memiliki dan menjual tiga ekor Lutung Budeng warna hitam atau Trachypithecus Auratus. Ketiga mamalia ini ditawarkan melalui media Facebook pada 28 Juni 2021.

Penyidik berhasil memancing pelaku untuk bertransaksi. Disepakati dengan harga Rp 1.550.000 per ekor. Lalu transaksi dilakukan di Lapangan Bogem Kalasan Sleman.“Kedua pelaku G.S dan E.P tidak dilakukan penahanan, namun demikian akibat perbuatannya, kedua pelaku dikenakan Pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (2) huruf a UU RI tahun 1990 dengan penjara paling lama lima tahun penjara dan denda maksimal Rp. 100 juta,” ujarnya.

Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIJ. Terkait penanganan dan pemeliharaan satwa ini. Selain itu juga berkoordinasi tentang penerapan sanksi hukum kepada pelaku. “BKSDA memastikan satwa-satwa ini memang dilindungi. Bahkan dilarang untuk diperjual-belikan maka dilakukan penangkapan,” katanya.

Kepala BKSDA DIJ Wahyudi tak menampik transaksi satwa dilindungi sangatlah marak. Bahkan nilainya bisa mencapai miliaran dalam satu tahun. Ada beberapa penyebab transaksi menjadi marak. Pertama hanya memikirkan keuntungan dari penjualan satwa. Lalu terkadang penjual atau pembeli bahkan tidak tahu satwa tersebut tergolong dilindungi.

Diakuinya, transaksi dalam satu tahun ini sangatlah marak, karena angkanya bisa sampai miliaran rupiah. “Kalau dijual negeri harga satwa-satwa endemik Indonesia ini bisa melonjak. Padahal kategorinya dilindungi bahkan ada beberapa yang langka,” ujarnya. (dwi/pra)

Jogja Raya