RADAR JOGJA – Kasus Covid-19 di DIJ benar-benar meledak bulan ini. Di Kabupaten Sleman, hingga kemarin (27/6) kasus positif mencapai 5.587 orang dengan angka kematian 127 orang. Jumlah ini tertinggi sepanjang pandemi Covid-19, melebihi jumlah kasus positif pada Januari lalu dengan 3.334 kasus.

Untuk mengantisipasi ledakan Covid-19, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman meminta rumah sakit umum daerah (RSUD) untuk menambah kapasitas bed atau bed occupancy rate (BOR) bagi pasien covid-19 hingga optimalisasi perawatan. Namun kenyataannya, banyak kendala yang dihadapi RS dalam pelayanan pasien Covid-19.

Direktur RSUD Sleman dr Cahya Purnama mengatakan, adanya lonjakan kasus positif di Sleman menyebabkan BOR hampir penuh. Dari total 40 bed isolasi Covid-19, yang terdiri atas 39 bed non kritikal dan satu ruangan Intensive Care Unit (ICU) Covid. Kini kondisinya sudah mencapai 95 persen dengan 38 pasien.
“Ruangan kami sangat terbatas. Sedangan setiap hari pasien Covid-19 dengan komorbid sedang dan berat mengalami peningkatan,” ungkap Cahya dalam jumpa pers penanganan pasien Covid-19 melalui zoom meeting kemarin (28/6).

Untuk mengatasi kurangnya bed itu, pihaknya hendak membuka satu bangsal lagi. Namun itu tidak mudah. Sebab, kondisi tenaga kesehatan (nakes) terbatas. Untuk satu bed saja paling tidak membutuhkan tiga sampai empat nakes. Satu dokter dan perawat. “Ini tidak mudah. Bukan seperti membuka warung,” ujarnya.

Kemudian lonjakan kasus ini juga berpengaruh pada ketersediaan oksigen yang kian menipis. Disebutkan, dalam satu hari kebutuhan oksigen di RSUD Sleman sekitar 40 tabung. Namun belakangan ini kebutuhan melonjak dua kali lipat lebih menjadi 90-100 tabung gas.

Sedangkan oksigen liquid yang biasanya satu kontener bisa diberikan untuk RSUD Sleman, saat ini harus dibagi tiga sampai empat RS. Sehingga pihaknya setiap hari harus keliling ke sejumlah eksaminator oksigen. “Hari ini aman, tapi nggak tau kalau untuk besok dan besoknya lagi kalau sewaktu-waktu ada lonjakan,” katanya.

Senada disampaikan Direktur RSUD Prambanan drg Isa Dharmawidjaja. Saat ini penanganan pasien Covid-19 mengalami crowded. Setiap hari perubahan bed isolasi menjadi sangat bergejolak. Diceritakan, jumlah bed untuk pasien Covid-19 awalnya hanya enam, lalu pada awal Januari ditambah menjadi 21 bed. Kemudian perlahan-lahan semakin naik menjadi 24, 30. Dan kemarin (28/6) menjadi 33 bed.

Tak berhenti di situ, pihaknya masih menunggu sembilan pasien positif dengan kormobid lagi di IGD. Dua pasien dinyatakan sembuh dan pulang saat itu dan satu pasien meninggal dunia. Praktis hampir 40 pasien di RSUD Prambanan. “Dilema bagi kami, selain tenaga, ruang juga terbatas,” keluhnya.

Kendati begitu, kata Isa, persediaan oksigen hingga seminggu ke depan masih tercukupi. Tabung oksigen liquid sudah terisi. Bahkan untuk mengantisipasi ledakan Covid-19, pihaknya sudah bekerjasama dengan menambah vendor. “Menggunakan tiga vendor bisa tercukupi,” tandasnya.

Penutupan IGD RSPS Dinamis

Dari Bantul dilaporkan, kapasitas ruang isolasi Covid-19 RSUD Panembahan Senopati (RSPS) overload. Kendati sudah dilakukan penambahan tempat tidur atau bed isolasi. Akibatnya IGD ditutup. Untuk ruang rawat, menunggu pasien di ruang isolasi ada yang dinyatakan sembuh.

“IGD RSPS tutup dari 27 Juni sampai 28 Juni pukul 20.00. Kami 24 jam tutup sementara, tidak menerima pasien,” ujar Humas RSPS Siti Rahayuningsih saat dihubungi Radar Jogja Senin (28/6).

Sejatinya, RSPS telah menambah jumlah bed perawatan pasien Covid-19. Total tersedia 63 bed bagi terkonfirmasi di RSPS. Tapi jumlah itu tetap tidak dapat menampung lonjakan terkonfirmasi Covid-19.

Siti pun tidak dapat memastikan berapa kemampuan daya tampung IGD RSPS. Namun setidaknya terdapat sembilan pasien yang sedang dirawat di IGD. “Fasilitas semua oksigenasi. Kami tidak bisa menghitung (kapasitas bed di IGD, Red) seperti itu. Karena IGD bukan ruang perawatan,” ujarnya.

Mereka terdiri atas pasien terkonfirmasi dan terduga Covid-19. Namun ditekankan semua pasien bergejala berat. Semuanya di rawat di ruang operasional IGD lantai 1. “Belum bisa dipindahkan ke bangsal, karena ruang rawat inap isolasi masih full. Sehingga terjadi penumpukan di IGD,” bebernya.
IGD rencananya dibuka tadi malam (28/6). Namun penutupan dapat diperpanjang, menyesuaikan ketersediaan bed bagi terkonfirmasi Covid-19.

“Karena info yang kami sebut tutup sampai pukul 20.00, sifatnya dinamis. Kami melihat perkembangan di lapangan. Kalau sampai pukul 20.00 belum bisa bergerak, penumpukan juga masih terjadi. Kami perpanjang (penutupan IGD, Red),” jelasnya.

Terkait kemungkinan penambahan kembali ruang rawat pasien Covid-19, Siti mengatakan harus menilik ketersediaan sumber daya manusia (SDM). Sebab ketersediaan SDM menjadi faktor utama perawatan. Baru kemudian dapat menambah ruang rawat.

“Jadi ini berbanding lurus. Tersedia SDM, baru kami buka ruang rawat. Berikut dengan penunjang seperti APD, alat medis, dan obat ketika membuka ruang rawat tambahan,” bebernya.

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih pun menyebut akan memperketat pengawasan penanganan Covid-19, guna menekan angka penularan Covid-19 di Bumi Projotamansari. Sesuai Instruksi Bupati Bantul No 15/Instr/2021 tentang Perpanjangan Kesembilan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Berbasis Mikro di Kabupaten Bantul untuk Pengendalian Penyebaran Covid-19.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah menambah ruang perawatan terkonfirmasi Covid-19, baik di rumah sakit dan selter. Terdiri atas selter milik pemkab dan kalurahan. “Kami sudah berusaha menambah ruang tempat tidur untuk antisipasi lonjakan Covid-19. Kami juga sudah rekrut relawan banyak sekali, yang kami tugasi di selter maupun RS,” tandasnya.

Pemkab Bantul merilis terjadi penambahan 432 terkonfirmasi Covid-19 pada 27 Juni. Sementara Humas Pemprov DIJ mencatat, pada tanggal yang sama terdapat 278 terkonfirmasi Covid-19 di Bantul. Beberapa hari belakangan, yang terpapar di Bantul pun tertinggi se-DIJ. (mel/fat/laz)

Jogja Raya