RADAR JOGJA – Wakil Gubenur DIJ KGPAA Paku Alam (PA) X  mengingatkan agar warga tentangnya bahayanya stunting atau gizi buruk pada anak. Keluarga, lanjutnya, memiliki peran yang sangat penting. Bahkan menjadi garda terdepan dalam antisipasi dan penanganan stunting.

Adipati Kadipaten Pakualaman ini tak menampik keluarga turut menjadi tonggak program Pemprov DIJ. Khususnya dalam mencegah stunting di lingkungan masing-masing. Memiliki kedekatan dan peran yang lebih optimal dalam menjalankan program ini.

“Kami berharap besar kepada semua pihak yang berada sangat dekat dengan keluarga-keluarga dan masyarakat di DIY, agar senantiasa mendukung rencana aksi daerah dalam hal penanganan stunting di tahun 2020-2024 dan Peraturan Gubernur DIY Nomor 92 Tahun 2020,” jelasnya dalam Peringatan Hari Keluarga Nasional ke-28 Tingkat DIJ di Gedhong Pracimasono Kompleks Kantor Kepatihan Pemprov DIJ, Selasa (29/6).

Stunting masih menjadi momok di masyarakat. Fenomena ini merupakan masalah kurang gizi kronis dalam waktu yang cukup lama. Alhasil mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak.

Dalam kesempatan ini, PA X menilai peringatan Hari Keluarga Nasional adalah momentum yang tepat.  Untuk membuka nurani keluarga dan masyarakat. Agar lebih memperhatikan peran dan fungsi masing-masing dalam keluarga.

“Peran dan fungsi ibu, ayah ataupun anak dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik pada akhirnya akan memberikan makna keluarga yang lebih baik. Mari membangun daerah yang bebas stanting demi kesejahteraan Indonesia yang kita cintai,” ajaknya.

Wakil Ketua I Tim Penggerak PKK DIJ GKBRAy Paku Alam X memastikan bahwa jajarannya telah membuat panduan mengatasi stunting. Panduan ini harapannya dapat dipergunakan sebagai langkah operasional, monitoring dan laporan. Tentunya dalam upaya pencegahan dan penurunan stunting di Jogjakarta.

Tercatat saat ini tim penggerak PKK DIJ telah memiliki 10 program. Salah satu fokusnya adalah peran ibu dalam mengantisipasi dan menekan stunting. Dengan memperhatikan asupan gizi anak-anaknya.

“Menurut kami, perempuan mampu berkarir gemilang di luar, namun tetap harus mampu menjadi tumpuan kesejahteraan keluarga. Apalagi program yang terkait dengan pendidikan, kesehatan, ekonomi maupun agama, semua bermuara pada keluarga,” katanya.

Kegiatan tim penggerak PKK, lanjutnya, selalu menyasar pada pembinaan dan  pendampingan keluarga. Terlebih peran PKK DIJ juga merupakan perpanjangan tangan dari pelaksanaan program di DIJ. Khususnya dalam ketahanan dan pemberdayaan keluarga.

Dia mengingatkan bahwa keluarga adalah cermin kekuatan masyarakat, bangsa dan negara. Sehingga patut diperhatikan, dijaga dan ditingkatkan kualitasnya.

“Keadaan ini harus menjadi kewaspadaan tersendiri, karena apabila tidak, maka dampaknya akan mengarah pada rapuhnya ketahanan dan kesejahteraan keluarga,” ujarnya.(dwi/sky)

Jogja Raya