RADAR JOGJA – Angka kasus Covid-19 aktif di Jogjakarta terus meningkat. Berdasarkan data akumulasi per 24 Juni 2021, jumlah kasus aktif telah mencapai 7.397 kasus. Tentunya ini berimbas pada ketersediaan tempat tidur pasien Covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan DIJ, Pembajoen Setyaniastutie menuturkan ketersediaan tempat tidur kritikal semakin menipis. Data terakhir telah terpakai 96 unit dari total 140 unit. Kondisi ini merupakan data kamar ICU keseluruhan rumah sakit rujukan Covid-19 di Jogjakarta.

“Kami kesulitan menambah bed ICU. Ekspansi bed yang dimaksimalkan baru bed non kritikal, karena yang utama adalah SDM. ICU itu spesifikasi atau keahlian khusus karena dia di ruang khusus beda dengan non kritikal,” jelasnya dalam jumpa pers daring, Jumat (25/6).

Selain SDM, kendala utama lainnya adalah fasilitas penunjang. Pembajoen memaparkan ICU membutuhkan beragam peralatan khusus. Terutama ventilator untuk menunjang nafas pasien Covid-19 dengan gejala berat.

Terkait ketersediaan ruangan, sejatinya memadai. Hanya saja dia tak bisa gegabah. Apabila ketersediaan SDM dan alat pendukung tak maksimal maka akan percuma.

“Kalau membuka ruang ICU juga hal lain beberapa disiapkan. Masalahnya medis juga harus fokus penanganan non Covid juga. Untuk pasien stroke, jantung hingga kecelakaan,” katanya.

Pihaknya telah berkomunikasi dengan sejumlah civitas kampus bidang kesehatan. Guna menarik para mahasiswa kesehatan yang baru saja lulus. Untuk dapat langsung membantu di setiap fasilitas kesehatan yang ada.

Jogjakarta, lanjutnya, membutuhkan dukungan tenaga medis yang cukup banyak. Seiring dengan peningkatan kasus Covid-19 perharinya. Termasuk dalam penanganan kasus non Covid-19.

“Sejumlah kebutuhan itu, kami komunikasikan dengan poltekes dan institusi pendidikan perawat. Khususnya beberapa dokter spesialis juga dibutuhkan,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Pembajoen mengingatkan tata urutan rujukan. Pada awalnya pasien Covid-19 bisa menghubungi Puskesmas wilayah. Setelahnya naik ke rumah sakit tipe C.

Kosongnya ketersediaan tempat tidur terjadi karena tidak tepatnya urutan rujukan. Warga, lanjutnya, kerap langsung merujuk rumah sakit besar. Padahal penanganan Covid-19 di wilayah telah berjalan di tingkat Kalurahan, Kecamatan maupun Kabupaten dan Kota.

“Kasihan yang tipe A atau tipe B yang seharusnya pasien bisa di tipe C, bednya habis. Ini karena prinsipnya rumah sakit tidak boleh menolak pasien,” katanya. (dwi/sky)

Jogja Raya