RADAR JOGJA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIJ melalui Dinas Kesehatan DIJ meminta orang tua untuk tidak membawa anak-anak ke luar rumah saat beraktivitas selama pandemi COVID-19 ini.

Pasalnya, berdasarkan catatan Dinas Kesehatan ada ribuan anak yang terpapar COVID-19 sejak pandemi melanda di Jogjakarta pada Maret 2020 hingga menjelang akhir Juni 2021 ini.

Angka kasus anak yang terpapar Covid-19 terus meningkat. Kondisi ini telah berlangsung sejak Juni 2021. Tercatat bulan ini kasus Covid-19 pada anak mencapai 2.051 pasien. Sebagai perbandingan, sebanyak 926 kasus tercatat selama medio Mei 2021.

Kepala Dinas Kesehatan DIJ, Pembajoen Setyaniastutie menuturkan peningkatan sejatinya mulai muncul medio Mei 2021. Hanya saja kasusnya masih di angka ratusan. Pada bulan sebelumnya, Apri, tercatat 598 kasus. Sempat naik 783 kasus di Maret dan 619 kasus di Februari.

“Kalau catatan tertinggi Juni ini. Sebelumnya juga sempat menyentuh angka 1.031 kasus pada Januari 2021. Dari total kasus itu pasien yang berusia nol hingga 10 tahun ada 3.227 kasus,” jelasnya dalam jumpa pers secara daring, Jumat (25/6).

Untuk kategori selanjutnya rentang usia 11 tahun hingga 20 tahun. Secara komulatif tercatat 5.554 kasus. Sedangkan usia 21 tahun hingga 30 tahun mendominasi mencapai kisaran 9.500 kasus per hari ini.

Akumulasi kasus Covid-19 pada anak, diakuinya sangatlah tinggi. Penyebabnya adalah mobilitas yang tak terkontrol. Anak usia nol hingga 10 tahun cenderung bermain secara asal. Disatu sisi anak terkadang belum paham penerapan protokol kesehatan Covid-19.

“Ini bukan cukup banyak lagi, tapi banyak. Anak itu kadang mainnya kita tahu kemana saja. Ini yang harus jadi perhatian. Dalam kondisi pandemi, orangtua sebaiknya memang mengawasi anak secara ketat,” katanya.

Imbauan ini tak sekadar ucapan semata. Terbukti dengan adanya rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Ditujukan kepada para orangtua yang memliki bayi, balita hingga usia anak.

Rekomendasi paling utama adalah tidak mengajak anak keluar rumah. Terutama dalam kondisi peningkatan kasus Covid-19 yang sangat tinggi. Anak justru sangat rentan terpapar, karena prokes terkadang tak disiplin.

“Anak-anak ini kan sangat rentan to. Miris kadang saat vaksinasi, orangtua malah mengajak anaknya padahal kan zona rawan. Kedua, rekomendasi IDAI itu menunda sekolah tatap muka,” ujarnya.

Pembajoen juga mengimbau kepada warga yang telah merampungkan dua dosis vaksinasi. Jangan lengah dalam menerapkan prokes pencegahan dan penularan Covid-19. Dia menegaskan, vaksinasi bukanlah jaminan utama terbebas dari paparan virus.

“Vaksin itu bukan berarti menghentikan virus. Viral load di wilayah kita semakin banyak semakin mudah kita terpapar. Vaksin hanya meringankan penderitaan atau kondisi untuk jatuh pada kematian,” pesannya.(dwi/sky)

Jogja Raya