RADAR JOGJA – Selain tempat tidur isolasi atau bed occupancy rate (BOR), rumah sakit (RS) di DIJ juga kekurangan stok oksigen medis. Karena pandemi Covid-19, pemakaian tabung oksigen lebih cepat habis. Agen oksigen di Kota Jogja juga mengeluhkan hal yang sama.

Salah satunya di RS Jogja. Direktur Utama RS Jogja Ariyudi Yunita menyampaikan, stok oksigen yang dimiliki saat ini hanya cukup untuk tiga hari ke depan. Menurut dia, semua RS saat ini masih tetap disuplai tabung oksigen. “Tetapi tidak full, kami sekali isi 120 bar, biasanya bisa sampai satu bulan. Tetapi karena Covid-19, kami dipasok 60 bar hanya bisa untuk tiga hari,” katanya kepada Radar Jogja, Rabu (23/6).

Ari menambahkan, pasokan oksigen saat ini terpaksa dibagi kepada seluruh RS akibat kasus Covid-19 di Jogjakarta meningkat. RS Jogja mendapatkan pasokan dari pihak ketiga yakni PT Samator. Sebelum pandemi, kata dia, RS Jogja mendapatkan pasokan oksigen setiap satu bulan sekali. “Karena tren kasus meningkat, mereka mengirim pasokan oksigen kepada kami seminggu sekali,” ujar mantan Kepala RS Pratama itu.

Bagaimana stok tabung oksigen untuk non RS? Di agen penyedia, Abadi Oksigen Jalan Kusbini, Klitren, Gondokusuman, Jogja dari jauh sudah nampak terpampang informasi yang bertuliskan ‘Maaf oksigen habis, jangan salahkan saya, pabriknya yang nggak bener’. Dari tulisan itu, tidak sedikit pelanggan yang kecele dan mengurungkan niatnya mengisi ulang oksigen.

Ya, agen itu yang salah satu mengalami kekosongan stok sejak, Senin (21/6). Pemicunya, akibat dari kondisi kasus Covid-19 yang meningkat akhir-akhir ini. Penggunaan tabung oksigen pun menjadi meningkat. Sementara, pasokan untu pengisian atau refil oksigennya semakin menipis. Bahkan dari gudang hingga pabrik produksinya. “Ya, memang ini paling parah. Di mana-mana sudah habis, semua pada kosong,” kata Pengelola Abadi Oksigen, Tri Tarmiasih.

Tidak hanya pelanggan dari Kota Jogja saja yang kecele. Terlebih, banyak permintaan dari pelanggan yang membutuhkan oksigen medis dari jarak jauh pun rela harus lari ke agen yang sudah berdiri 10 tahun lalu itu. Seperti, dari Wates Kulonprogo, Muntilan Magelang, hingga Wonosari Gunungkidul. Mereka menggruduk dengan membawa tabung besar berukuruan enam meter kubik untuk pengisian refil. “Di sini saja habis, ya terpaksa kami tolak tidak bisa melayani untuk tabung besar,” ujarnya.

Selama ini, ibu tiga anak ini mendapatkan pasokan oksigen dari gudang yang berada di Jalan Godean Sleman, yang disebut oksigen diproduksi dari daerah Magelang, Jawa Tengah. Biasanya, dalam kondisi stabil sebelum kekosongan ini terjadi. Pasokan pengisian refil oksigen dilakukan setiap hari mencapai 10-15 tabung berukuran besar. Namun, selama tiga hari kemarin sama sekali tidak ada pasokan pengisian masuk. Bahkan, dikatakan pengisian refil sudah dirasakan tidak stabil atau naik turun sejak hari sebelum-sebelumnya. “Pas ada ya dilayani, pas nggak ada ya kita stop. Tergantung dari gudangnya, kalau gudangnya ada ya dikirim. Gudangpun tergantung bagian produksinya,” jelasnya.

Diakui, hingga saat ini pun stok persediaannya semakin menipis yang tersisa di agen. Dia pun menunjukkan empat tabung besar yang masih tersegel sejak Selasa (22/6). Namun, ketersediaan yang ada hanya mengutamakan untuk melayani refil tabung-tabung kecil dari pelanggan yang membutuhkan. Ini agar pengisian bisa merata ke semua pelanggan. “Kami tetap nyetok sebelumnya. Cuma dikasih sedikit untuk refil tabung-tabung kecil, supaya rata raketang sitik (meskipun sedikit-sedikit),”.

Menurut dia, biasanya, kebutuhan permintaan oksigen dari pelanggan untuk umum seperti penyakit bawaan, paru, jantung, magh, dan lain-lain. Namun, diklaim karena pandemi belum usai dan semakin meningkat permintaan oksigen karena pasien yang membutuhkan lebih banyak dibanding sebelumnya. Bagi pasien non Covid-19 pun, biasanya hanya untuk persediaan kala mereka membutuhkan saja. “Kalau yang sekarang kan kondisi pandemi yang kena Covid-19 berat kan harus pakai oksigen. Ya itu yang bikin lebih cepat boros dan banyak yang menggunakan,” tuturnya.

Rerata perempuan 31 tahun itu melayani untuk person seperti ambulans, kampus-kampus, sekolah, klinik, maupun person lainnya secara datang pribadi. Walaupun, mengalami kelangkaan pasokan. Namun, harga refil oksigen yang dibanderol terbilang stabil atau tidak dinaikkan. Sekali pengisian untuk tabung besar ukuran enam meter kubik seharga Rp 90 ribu, tabung kecil ukuran satu meter kubik Rp 30 ribu. Selain pengisian ulang juga melayani persewaan tabung oksigen berukuran besar jika ada yang membutuhkan dengan harga sewa per hari Rp 10 ribu dan sebulan Rp 200 ribu. “Harga kami tetap stabil tidak ada lonjakan, kan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan buat pernafasan,” tambahnya

Seorang pengirim tabung ke agen, Rudi Wibowo mengatakan paling banyak melakukan pengiriman tabung oksigen akhir-akhir ini ialah kepada pasien lanjut usia (lansia). Sedikitnya,lima pasien lansia ini yang didatangi sangat ketergantungan dengan pernafasan bantuan oksigen untuk 24 jam. “Saya sebagai pengirim saja pikiran nggak tenang di rumah. Bagaimana orang yang kurang nafas nggak tega, sedangkan pasokan menipis gini,” katanya perihatin.

Selama pandemi ini, peristiwa kekosongan stok oksigen pernah terjadi. Namun, kali ini merupakan yang terparah. Terlebih, akhir-akhir ini dia tidak ada hari libur untuk melakukan pengiriman oksigen ke pasien atau pelanggannya. Satu bulan hanya satu kali libur. Permintaannya pun tak bisa diprediksi. “Kan nggak tahu pasien butuh oksigen cepat atau lambat. Kadang stabil, tapi tahu-tahu nge-drop takutnya itu,” ungkapnya.

Salah seorang pelanggan, Galuh mengaku sudah mendatangai dua agen oksigen juga mengalami kekosongan. Ada kekhawatiran ketika sejumlah agen mengalami kekosongan oksigen. Terlebih, ia harus siap sedia oksigen untuk orang tuanya yang mengalami penyakit komorbit dan mengharuskan dibantu pernafasan menggunakan oksigen. “Ya khawatir, karena sudah kebutuhan. Kadang (orang tua) sering sesak ya satu-satunya butuh ini (oksigen). Harusnya saya ngisi dua jadi hanya bisa satu tabung karena dibatasi,” katanya.

Terpisah, Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja, Heroe Poerwadi mengatakan, oksigen banyak ditentukan karena pasien yang sedang dirawat di ICU meningkat. Otomatis kebutuhan oksigen medis ini juga semakin besar. Jika ruang ICU tidak banyak dipakai, maka otomatis oksigen tidak terpakai banyak pula. “Stok oksigen kemarin Pak WaGub (Wakil Gubernur DIJ) sudah bertemu dengan suplier oksigen dan memberikan jaminan Jogja masih aman. Sampai kapan amannya kami nggak tahu, karena jumlah kasusnya semoga nggak semakin naik,” imbuhnya. (kur/wia/pra)

Jogja Raya