RADAR JOGJA – Mengantisipasi jalur kartu menuju sejahtera (KMS) yang tidak tepat sasaran pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun-tahun sebelumnya, Forum Pemantau Independen (Forpi) Kota Jogja melakukan pemantauan ke enam SMP negeri. Pada hari pertama pemantauan, belum ada indikasi calon pendaftar jalur KMS termasuk warga berkategori makmur dan sejahtera.

Anggota Forpi Kota Jogja Baharuddin Kamba mengatakan, sejauh ini calon pendaftar masih sesuai dengan jalurnya. “Ya, sejauh ini belum kami temukan yang seperti itu (masuk warga makmur dan sejahtera, Red),” katanya saat pemantauan di SMPN 4 Kota Jogja, Selasa (22/6).

Pantauan koran ini di SMPN 4 Kota Jogja tidak terlihat calon pendaftar menggunakan kendaraan roda empat atau dua yang masih kategori kendaraan versi baru. Maupun mencolok perhiasan di badan orang tua/wali calon peserta didik. Justru mereka datang dengan keadaan yang apa adanya.

Adapun pemantauan Forpi ke-6 sekolah negeri yaitu SMPN 9, SMPN 10 SMPN 13, SMPN 16, SMPN 4, dan SMPN 15 Kota Jogja itu dikhususkan memang pada jalur afirmasi yang berasal dari penduduk tidak mampu dan terdata dalam Keluarga Sasaran Jaminan Perlindungan Sosial (KSJPS) dengan identitas KMS.

Sebab, pada tahun-tahun sebelumnya Forpi menemukan cukup banyak masyarakat yang sejatinya tidak patut memiliki identitas KMS.

“Karena ada yang pakai mobil, motornya baru, bahkan badannya emas semua, itu catatan kami,” ujar Kamba yang menyebut pemantauan dilakukan hingga 24 Juni mendatang.

Menurutnya, mereka yang kelihatan tidak tampak pegang KMS harus ditinjau ulang untuk mengetahui apakah layak atau tidaknya memiliki identitas tanda penduduk tidak mampu itu. Hal ini penting agar jalur afirmasi pemegang KMS bisa tepat sasaran.

“Jangan sampai mentalitas kemiskinkan diri itu terus terjadi dari tahun ke tahun. Kasian juga yang benar-benar butuh malah tidak dapat KMS, kan jadi ketimpangan masyarakat, apalagi sekarang situasinya pandemi,” jelasnya.

Sampai kemarin Forpi mencatat belum adanya lonjakan pendaftar jalur KMS. Diharapkan calon peserta didik yang mendaftar dapat memberikan data yang benar. Ditunjukkan dengan surat pernyataan yang ditandatangani bermaterai Rp10 ribu bahwa mereka layak mendapat jalur KMS.

“Kalau kita menemukan masyarakat yang tidak layak mendapat KMS, terutama dari segi penampilan, maka akan merekomendasikan agar dicabut saja (KMS-nya, Red),” terangnya.

Namun demikian dalam pemantauan itu hanya ditemukan kendala teknis seperti nilai calon siswa baru yang diprint petugas tidak muncul. Atau hanya tercetak angka nol-nol. Ini terjadi terhadap tiga calon siswa baru yang mengalami hal serupa. “Mungkin karena jaringan, tapi sudah dikomunikasikan dengan Disdikpora, bisa diverifikasi selanjutnya,” jabarnya.

Kepala SMPN 4 Kota Jogja Suramanto mengatakan, khusus jalur afirmasi pemegang KMS itu sudah hampir terpenuhi kuota pendaftar. Dari 11 persen daya tampung jalur afirmasi yang disiapkan atau 18 siswa untuk dalam kota, sudah terisi 17 pendaftar. Dan 16 siswa untuk luar kota sudah terisi 6 pendaftar. “Walaupun KMS tetap persaingan nilainya ketat, nilainya tinggi-tinggi,” ungkapnya.

Syarat pendaftar jalur afirmasi ini adalah nilai ASPD asli dan fotokopi, menunjukkan KK asli dan fotokopi. Bagi calon peserta didik yang berprestasi bisa menyertakan surat keterangan penambahan nilai prestasi. Penetapan seleksinya tetap menggunakan nilai ASPD.

“Nanti kami ada tim verifikasi untuk jalur afirmasi ini. Rata-rata pemegang KMS minimal 6 bulan, jadi ketika calon siswa mengajukan sudah terdaftar di database bahwa ini afirmasi,” ujarnya.

Selain jalur afirmasi, pelaksanaan PPDB kemarin juga dibuka untuk jalur zonasi mutu dan prestasi luar daerah. Penentuan seleksi atau pengumuman untuk ketiga jalur itu yakni pada seleksi 25 Juni pukul 10.00 secara online.

Salah seorang wali calon siswa baru Khumairotul Husna mengatakan optimistis bisa memasukkan adiknya ke SMPN 4 Jogja melalui jalur afirmasi pemegang KMS. Sebelumnya, telah mencoba mendaftar jalur zonasi wilayah ke tiga sekolah yakni SMPN 2, SMPN 4, dan SMPN 15 Kota Jogja.

Namun ia tidak lolos karena jaraknya masih tergolong cukup jauh dari rumahnya yang ada di Jalan Tamansiswa, Mergangsan, Kota Jogja. “Ya, berharapnya udah langsung keterima di SMPN 4 Jogja ini saja, sesuai keinginan adik saya,” katanya. (wia/laz)

Jogja Raya