RADAR JOGJA – Ketua Kelompok Kerja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Gunadi menyebut, Varian Covid-19 Delta belum terdeteksi di Jogjakarta. ┬áIni karena pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) masih berlangsung.

Pihaknya telah melakukan pemeriksaan sampel sejumlah pasien. Hasilnya ada temuan varian Delta di DKI Jakarta, Kudus dan Karawang. Ciri khasnya adalah tingkat papaparan yang lebih cepat.

“Sampai saat dini belum terdeteksi di Jogjakarta tapi bukan berarti belum ada. Kalau selain Delta varian yang sudah masuk ada Alpha dan Beta tapi yang mendominasi memang Delta,” jelasnya ditemui di Kompleks Kantor Kepatihan Pemprov DIJ, Senin (21/6).

Terkait sampel sembilan pasien mati cepat, Gunadi memastikan belum ada hasilnya. Disatu sisi pihaknya juga ingin memperbarui data. Berupa pemeriksaan WGS sampel pada bulan Juni.

Pemilihan waktu memiliki korelasi dengan ketepatan data. Ini karena indikasi masuknya varian Delta berawal dari awal Juni. Terutama atas munculnya sejumlah klaster besar di wilayah Jogjakarta.

“Terkait sampel sembilan pasien Covid-19 asal Jogjakarta yang mati cepat itu belum ada hasilnya. Itu sampel bulan Mei, saat ini kami ingin tahu sampel Juni, karena terlihat banyak klaster di bulan Juni ini,” katanya.

Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dinkes DIJ. Kaitannya adalah ketersediaan sampel milik pasien Covid-19. Terutama yang memiliki indikator dan ciri khas penularan Covid-19 varian delta.

“Untuk sementara ini masih membantu Kemenkes untuk periksa sampel dari Kudus. Setelahnya akan mencoba sampel dari Jogjakarta termasuk kiriman dari Solo Raya,” ujarnya.

Gunadi menjawab tentang efektivitas vaksinasi terhadap varian delta. Dia memastikan bahwa seluruh vaksin yang beredar saat ini telah protektif terhadap Covid-19. Mampu menekan angka kritis apabila terpapar sewaktu-waktu.

Fungsi vaksin, lanjutnya, menekan faktor resiko secara signifikan. Mulai dari meminimalisir peluang mondok di rumah sakit. Bahkan apabila terinfeksi tidak sampai membutuhkan tindakan medis yang intens.

“Resiko terinfeksi tetap ada tapj tidak sampai mondok. Membuat gejalanya lebih ringan. Ada booster tapi belum ditentukan 6 bulan atau 1 tahun setelah vaksin kedua,” katanya.

Ahli Epidemiologi UGM, Riris Andono Ahmad menjelaskan bahwa varian delta lebih menular. Karakter kemampuan melekat kepada sel lebih kuat. Inilah yang membuat penularan menjadi lebih cepat.

“Misal dulu butuh sekian ribu copy virus untuk terinfeksi, sekarang lebih kuat maka lebih seidkit. Tapi untuk itu virus harus masuk ke saluran pernapasan. Nah disini kunci antisipasinya tetap sama, pakai masker, jaga jarak maka virus tidak mudah menginfeksi,” paparnya.(dwi/sky)

Jogja Raya