RADAR JOGJA – Kasus positif Covid-19 di DIJ terus ada di level yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa hari terakhir kasus orang yang terpapar korona ada di angka lebih dari 600 kasus per hari.

Hal itu membuat pembatasan mobilitas masyarakat menjadi keniscayaan. Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad mendorong agar pembatasan mobilitas masyarakat bisa kembali diterapkan di provinsi ini.

Menurut Riris, pembatasan mobilitas itu dilakukan paling tidak selama tiga pekan. Jika mampu melakukan hal itu, ia meyakini kasus penularan Covid-19 di DIJ akan mengalami penurunan dengan angka lumayan besar. “Dengan mobilitas yang dibatasi, virus juga akan kesulitan mencari orang untuk ditularkan,” ujarnya Senin (21/6).

Lebih lanjut Riris mengatakan, tidak begitu penting apakah itu menggunakan istilah lockdown, PPKM atau PSBB. Yang paling penting mobilitas masyarakat itu bisa dihentikan untuk sementara.

Ia kemudian mencontohkan kejadian di beberapa negara lain seperti Vietnam maupun Selandia Baru. Menurutnya, di kedua negara itu masyarakat bisa diajak untuk tetap di rumah saja selama berbulan-bulan. Tentu dengan jaminan kebutuhan hidup dari pemerintah. Maka dari itu di dua negara tersebut kasus Covid-19 jauh lebih terkendali. “Di Vietnam dan Selandia Baru itu sudah terbukti,” tandasnya.

Sementara itu, Kabag Humas Biro UHP Pemprov DIJ Ditya Nanaryo Aji memberikan data terkini mengenai perkembangan kasus Covid-19. Terdapat 662 kasus positif baru di DIJ. “Total saat ini menjadi 53.303 kasus,” katanya.

Untuk kasus sembuh juga bertambah, tapi jumlahnya jauh lebih sedikit dari kasus positif. Yakni mencapai 218 kasus sembuh. Total kasus sembuh Covid-19 di DIJ saat ini mencapai angka 45.853. Untuk kasus meninggal dunia bertambah 12, sehingga total sudah 1.379 orang yang meninggal akibat Covid-19 di DIJ. (kur/laz)

Jogja Raya