RADAR JOGJA- Tingkat keterisian tempat tidur isolasi atau bed occupancy rate (BOR) Covid-19 di Jogjakarta masih dalam level warning. Untuk kritikal dari kapasitas 140 unit telah terpakai 83 unit. Sementara untuk non kritikal dari ketersediaan 1.094 unit telah terpkai 768 unit.

Kondisi telah berlangsung selama sepekan terakhir. Tepatnya semenjak kasus Covid-19 harian menyentuh angka 400 hingga 600 kasus. Imbasnya adalah ketersediaan tempat tidur isolasi di 27 rumah sakit rujukan Covid-19.

“Untuk kritikal itu sudah terisi 60 persen, tapi ICU dengan 60 persen ini sudah warning. Kalau total kapasitas saat ini sudah 1.234 unit,” jelas Kepala Dinkes DIJ Pembajoen ditemui di Kompleks Kantor Kepatihan Pemprov DIJ, Senin (21/6).

Pembajoen mengakui ketersediaan BOR di Jogjakarta cukup mengkhawatirkan. Apabila pertambahan kasus meningkat setiap harinya. Tak hanya ketersediaan tempat tidur tapi juga tenaga kesehatan.

Dinkes DIJ telah mendapatkan laporan dari sejumlah rumah sakit dan Dinkes wilayah. Untuk RSUD Sleman tersisa 2 unit ruangan kritikal. Sementara di RSUD Panembahan Senopati Bantul telah penuh.

“(RSUD) Panembahan ya penuh, kalau RSUD Sleman saya tanya Kadinkes Sleman masih tersedia tapi selektif. Untuk yang penuh, harapan kami bisa ditampung di 27 rumah sakit rujukan lain. Kalau yang (gejala) sedang di shelter saja,” katanya.

Pihaknya telah mendorong penambahan tempat tidur. Sesuai acuan dari Permenkes yaitu 30 persen. Dikuatkan dengan Surat Edaran yang diterbitkan oleh Dinkes DIJ.

“Kami juga sudah minta bantuan alat ke Kemenkes agar bisa ditempatkan di unit tambahan di setiap rumah sakit rujukan,” ujarnya.

Disatu sisi, penambahan ini belum sepaket dengan tenaga kesehatan (naked). Inilah yang menjadi permasalahan lain penanganan Covid-19 di Jogjakarta. Kondisi ini hampir merata di seluruh rumah sakit rujukan.

Setiap rumah sakit, lanjutnya, mengoptimalkan nakes yang telah ada. Kondisi ini tentunya menjadi timpang. Terutama bagi rumah sakit rujukan yang mengalami keterbatasan nakes.

“Semua yang punya SDM, dipegang kencang jangan kemana-mana. SDM kekurangan ya banyak. Belum sempat hitung di 27 rumah sakit rujukan ini,” katanya.

Nakes baru menjadi opsi pilihan lainnya. Hanya saja pemanfaatan nakes yang baru lulus ini tak bisa spontan. Terlebih setiap nakes baru harus kembali ke daerah asal untuk mengabdi.

“Lulusan baru, sedang akan kami bicarakan sama insttutsi pendidikannya. Masalahnya kalau tugas belajar selesai segera pulang tidak boleh dipinjamkan oleh kabupaten lain,” ujarnya.(dwi/sky)

Jogja Raya