RADAR JOGJA – Kasus covid-19 di Jogjakarta melonjak signifikan selama sepekan terakhir. Langkah antisipasi telah ditempuh sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19 di Jogjakarta. Berupa penambahan kapasitas tempat tidur dan tenaga kesehatan.

Gubernur DIJ, Hamengku Buwono (HB) X mengakui tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di Jogjakarta menipis. Angka rata-rata pertambahan kasus terus melonjak antara 500 hingga 600 kasus perharinya. Imbasnya adalah ketersediaan bed yang terus menipis.

“RSUP dr. Sardjito, RSPAU Hardjolukito dan rumah sakit lainnya telah mengubah kamar rawatnya jadi ruang penanganan khusus Covid-19. Sekarang total sudah 1.224 unit,” jelasnya ditemui di Gedhong Pracimasono Kompleks Kantor Kepatihan Pemprov DIJ, Minggu (20/6).

Pada awalnya ketersediaan bed mencapai 941 unit. Penambahan dalam kondisi darurat baru mencapai 17 persen. Sementara anjuran dari pemerintah pusat minimal 30 persen.

Data terkini menyebutkan ketersediaan tempat tidur untuk pasien Covid-19 kategori berat menjadi 140 unit. Dari total tersebut sebanyak 87 unit telah terisi. Sementara untuk non kritikal tersedia 1.084 unit dan telah terpakai 714 unit.

“Dengan penambahan ranjang ini, maka tingkat BOR yang sebelumnya mencapai 73,54 persen kini menurun menjadi 65,44 persen,” katanya.

Sekprov Pemprov DIJ, Kadarmanta Baskara Aji memastikan penambahan bed seiring dengan jumlah nakes. Berupa pengalihan dari reguler menjadi penanganan khusus Covid-19. Selain itu juga melibatkan para nakes yang sebelumnya telah aktif dalam penanganan khusus Covid-19.

Para nakes, lanjutnya, berasal dari masing-masing rumah sakit. Setiap rumah sakit juga memiliki jumlah nakes yang berbeda. Acuannya adalah penambahan jumlah bed per sumpah sakit.

“Nakesnya itu tetap dari rumah sakit yang bersangkutan. Juga dulu yang pernah menangani Covid dipindahkan ke reguler karena kasus turun, sekarang dikembalikan lagi ke (penanganan) Covid,” ujarnya.

Disatu sisi, Aji mengajak masyarakat untuk berperan aktif. Menurutnya penanganan Covid-19 tak cukup mengandalkan pemerintah. Masyarakat justru memiliki peran yang lebih penting.

Paling utama dengan menjalankan protokol kesehatan secara ketat dan disiplin. Lalu mematuhi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berbasis Mikro. Baik di lingkungan rumah maupun tempat usaha.

“Jangan hanya mengandalkan Satpol PP. Saya minta tolong, masyarakat bisa mengingatkan tetangga kiri kanan, saudara, supaya jaga prokes, bukan hanya diri sendiri tapi ingatkan. Supaya angka (Covid-19) kita nanti menurun,” pesannya.(dwi/sky)

Jogja Raya