RADAR JOGJA – Kasus harian positif Covid-19 di Kabupaten Sleman menunjukkan kenaikan signifikan. Per Jumat (18/6) pukul 16.00, penambahannya tembus di angka 311 orang. Ditambah penggunaan bed rumah sakit kritikal sudah melebihi 90 persen dari kapasitas. Fasilitas kesehatan (faskes) darurat kondisinya juga hampir penuh. Kondisi ini menyebabkan Sleman genting Covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo menyebutkan, ketersediaan bed rumah sakit (RS) kritikal saat ini hanya satu bed. Dari total bed RS kritikal di Sleman sebanyak 56 bed. Sedangkan untuk RS nonkritikal sudah terisi 60 persen, dari total bed 463 yang tersebar di 25 RS.

Sleman telah memasuki indikator genting Covid 19. Sebab, penggunaan bed RS kritikal sudah melebihi 80 persen. Menurutnya, ini menjadi warning Pemkab Sleman untuk segera mencari solusi.

Upaya yang sudah dilakukan yaitu berkoordinasi dengan RS agar kembali menambahkan kapasitas kritikal. Untuk menghadapi lonjakan kasus yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

RSUP Dr Sardjito dan RSUD Sleman dikatakan masih memungkinkan menambah kapasitas ruang kritikal, dengan memanfaatkan ruang yang sudah ada. Misalnya di RSUD Sleman, dapat memanfaatkan ruang bekas ICU, meski fasilitasnya belum optimal. Karena alat oksigen masih manual, tidak sentral.
“Untuk pasien yang sakit tidak terlalu berat, nantinya diturunkan ke nonkritikal,” ungkap Joko di kompleks Parasamya Pemkab Sleman, kemarin (18/6).

Jika sudah dilakukan penambahan kapasitas namun ketersediaan bed masih belum memungkinkan, maka pihaknya akan berkoordinasi dengan Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang memiliki kapasitas ruang cukup tinggi. Kendati begitu, kendala ada pada sumber daya manusia (SDM). Dari total kebutuhan nakes 40 orang, saat ini hanya tersedia 24 orang.
“Kalau rencana membuka RS lapangan belum kami pikirkan ke sana. Tapi saran Pak Sekda begitu, kita akan konsultasikan dulu dengan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana),” katanya.

Apabila kondisinya sudah darurat atau seluruh RS DIJ penuh, pihaknya akan mengupayakan dengan menggandeng RS di wilayah lain seperti RS di Magelang. Sesuai edaran dari Kementrian Kesehatan (Kemenkes).
Sementara itu, keterisian bed untuk faskes darurat Asrama Haji tersisa tiga, dari total 60 bed. Rusunawa Gemawang saat ini juga full. Lalu Shelter Isolasi di Rusunawa Universitas Islam Indonesia (UII) diprediksi saat ini mencapai 50 persen dan beberapa shelter kalurahan juga mulai terisi.

“Jadi kalau dari kacamata medis, mungkin sudah saatnya untuk dilakukan lockdown. Aktivitas masyarakat yang cenderung bebas, harus dikendalikan betul,” kata Joko. Baik itu terkait kegiatan wisata, sosial kemasyarakatan, kesenian, kegiatan keagamaan dan sebagainya.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menambahkan, kebijakan PPKM mikro akan terus dilakukan. Untuk mengantisipasi persebaran, pihaknya meminta lurah agar segera mengaktifkan shelter tingkat kalurahan. Treatment, tracing dan testing (T3) dan vaksinasi di Sleman juga terus digencarkan.

“Kita tetap tekankan protokol kesehatan serta mengikuti aturan pemerintah provinsi dan pusat,” kata Kustini. Disinggung soal kebijakan lockdown, ia menyebut dilakukan situasional. Hanya apabila lokasi di lingkup RT berada di zona merah. “Karena kita juga harus menggerakkan ekonomi,” tandasnya. (mel/laz)

Jogja Raya