RADAR JOGJA – Terselip pada sela perbukitan Imogiri, Bantul. Ya, Kali Oya menyuguhkan keindahan alam yang memandangnya.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Sungai yang berhulu di lereng barat perbukitan Gunung Gajahmungkur, Wonogiri, Jawa Tengah, ini memang menakjubkan. Alirannya pada kekar bebatuan kars, membelah perbukitan memisah sisi selatan dan utara. Namun mengalirkan kehidupan, bagi makhluk yang bermukim di pematangnya.

Berdekatan dengan sungai, pertanian lantas berkembang dan tumbuh menjadi mata pencaharian utama warga pematang Kali Oya. Seiring perkembangan zaman, ternyata pertanian tetap dipertahankan. Dan saat Jogjakarta membuka pintu seluas-luasnya untuk pariwisata, pertanian justru menjadi salah satu daya tariknya.

Panorama terasering di bawah perbukitan Sriharjo, didapuk menjadi salah satu landmark keindahan Kali Oya pada sisi utara. Sehingga menjadi lokasi utama pengunjung melakukan swafoto. Menyadari itu, warga berkomitmen untuk mempertahankannya.

“Terasering yang notabene lahan pertanian ini adalah potensi utama kami. Jadi kami melakukan regenerasi di bidang pertanian,” beber Sugianto, dukuh Wunut, Kalurahan Sriharjo, Imogiri, Bantul, sambil menyantap pecel kemarin (11/6).

Padukuhan Wunut bahkan memiliki taruna tani dengan anggota sekitar 31 pemuda. Di mana semua anggotanya belum menikah. Tugas utamanya, merawat eco park di objek wisata (obwis) yang dikembangkan warga, Srikeminut.

“Kami mengembangkan destinasi wisata edukasi eco park, utamanya teknologi irigasi. Pelakunya anak-anak muda yang belum berkeluarga. Agar anak muda tetap peduli terhadap pertanian,” jelas pria 41 tahun itu.

Selain itu, anggota taruna tani dipersiapkan sebagai pemandu, sehingga mereka tidak hanya belajar dan melestarikan pertanian. Tapi turut menyebarluaskan ilmunya tentang pertanian kepada wisawatan yang datang ke Srikeminut.
Pola pertanian tradisional seperti membajak sawah tetap dirawat. Tapi pertanian modern berbasis teknologi pun diterapkan. “Kami ingin menciptakan semacam living museum. Untuk mewujudkan tagline kampung kami, menjadi petani berdasi,” cetus pria yang menggemari sejarah itu.

Menyeberang ke sisi selatan Kali Oya, wilayah diampu oleh Kalurahan Selopamioro. Kendati tetap berada dalam satu Kapanewon Imogiri. Pengembangan pariwisatanya mulai dilakukan setelah kawasan ini mengalami Badai Cempaka pada tahun 2017. Warga kemudian mendapat bantuan dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. “Kami mendapat bantuan berupa destinasi wisata Selopamioro Adventure Park (Selopark),” ungkap mantan Wakil Ketua Pokdarwis Selopamioro Giyanto.

Wisata yang dikembangkan oleh Selopark adalah wisata air. Seperti penyewaan jib, rafting, kano, dan sepeda air. Dengan memanfaatkan keindahan aliran Kali Oya yang jernih berhias bebatuan putih. Pokdarwis kemudian melengkapi fasilitas wisata seperti gazebo kurung sebagai lokasi kuliner. Selain itu, Pokdarwis menawarkan paket wisata memacu adrenalin seperti panjat tebing. “Jadi bisa melihat Kali Oya dari ketinggian saat matahari terbenam, itu luar biasa sekali,” ujarnya berpromosi.

Namun, keindahan Kali Oya tentu tidak lepas dari ancaman. Terlebih, kawasan ini masuk dalam zona merah. Sehingga alam, sewaktu-waktu dapat menunjukkan keperkasaannya. Pakar Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Agung Harjito ST, M.Eng menyebut, perlunya kerja sama. Terkait bagaimana warga harus membaca alam sebagai tanda-tanda bencana. “Mestinya harus bekerjasama dengan pihak terkait di Kota Jogja maupun Kabupaten Sleman,” sebutnya.

Kerja sama dapat membuat warga segera tahu saat terjadi anomali sungai. Lantaran Bantul merupakan wilayah hilir yang kerap mendapat kiriman banjir. Selain itu, Kali Oya juga menyimpan potensi kegempaan. “Terkait gempa bumi, mestinya harus memperhatikan dan mentaati building code dalam pembangunan,” tandas Agung. (laz)

Jogja Raya