RADAR JOGJA – Kasus Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) mengalami peningkatan tajam dalam dua hari belakangan. Tercatat ada 749 kasus terkonfirmasi positif yang muncul kemarin (9/6) dan hari ini (10/6). Kabupaten Bantul dan Sleman masih mendominasi akumulasi kasus Covid-19 di Jogjakarta.

Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ terjadi penambahan 304 kasus, Rabu (9/6). Penambahan signifikan terjadi hari ini sebanyak 455 kasus. Jumlah ini sekaligus menjadi rekor baru kemunculan Covid-19 di Jogjakarta.

“Rekor tertinggi dulu pernah 300 kasus sekarang lagi. Hasil analisis kami, akibat adanya kerumunan dan mulai abai terhadap itu. Masyarakat memang mulai abai, sehingga perlu kami ingatkan,” jelas Sekprov Pemprov DIJ, Kadarmanta Baskara Aji ditemui di Kompleks Kantor Kepatihan Pemprov DIJ, Kamis (10/6).

Aji memastikan evaluasi terhadap penanganan Covid-19 terus berlangsung. Fakta baru ada celah pada peran Satgas Covid-19 Padukuhan. Berdasarkan data, belum semua padukuhan di Jogjakarta membentuk satgas Covid-19.

Fakta ini selaras dengan penambahan kasus di perkampungan. Sifatnya cenderung massif dan berkelompok. Bahkan fokus penularan muncul di lingkungan keluarga dan tetangga.

“Masih cukup banyak Satgas Covid-19 padukuhan yang belum terbentuk. Masih 50 persen yang terbentuk, harusnya ada satgas dan satlinmas,” katanya.

Aji menuturkan masih ada padukuhan yang pasrah kepada Satgas di tingkat Kelurahan. Pola pikirnya adalah penanganan Covid-19 cukup sampai di tingkat Kelurahan atau Desa. Alhasil pengawasan di tingkat terkecil justru menjadi tak optimal.

Aji mendorong agar Satgas Penanganan Covid-19 di tingkat Kabupaten/Kota hingga Kelurahan aktif. Mengedukasi warganya tentang pentingnya keberadaan Satgas Covid-19 Padukuhan. Tujuannya agar bisa mendeteksi kasus dengan cepat dan meminimalisir sebaran kasus menjadi lebih luas.

“Ini harus difasilitasi untuk pembentukan satgas di padukuhan. Saya belum tahu persis alasannya, mungnin ada yang merasa di tingkat Kelurahan itu sudah cukup. Padahal sekarang penularan hingga keluarga dan tetangga,” ujarnya.

Dikonfirmasi lonjakan kasus imbas hari raya, Aji tak ingin berspekulasi. Walau begitu dia meyakini, lonjakan kasus terjadi jauh setelah hari raya. Ini karena perhitungan masa inkubasi selisih 2 pekan telah terlewati.

“Dua Minggu setelah hari raya itu masih landai. Ini dominasinya klaster keluarga dan tetangga. Mungkin bisa dari aktivitas hajatan, takjiah, bisa jadi syawalan,” katanya.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ, Berty Murtiningsih menjelaskan detail jumlah kasus. Rekor tertinggi tercapai hari ini dengan 45 kasus. Sementara untuk akumulasi kasus Covid-19 di Jogjakarta telah mencapai 47.432 kasus.

Kabupaten Sleman mendominasi dengan 161 distribusi kasus. Menyusul kemudian Bantul dengan 120 kasus. Kota Jogja mencatat sebanyak 74 kasus, Gunungkidul dengan 58 kasus dan Kulonprogo sebanyak 42 kasus.

“Kemarin 304 kasus, dengan Bantul tertinggi hingga 116 kasus, lalu Sleman 111 kasus, Kota Jogja 32 kasus. Lalu Gunungkidul tercatat 23 kasus dan Kulonprogo 22 kasus,” ujarnya.(dwi/sky)

Jogja Raya