RADAR JOGJA – Guna untuk mendongkrak angka kunjungan wisata, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (ASITA) DIJ melakukan inovasi di tengah pandemi Covid-19. Tentunya tanpa meninggalkan penerapan protokol kesehatan dalam setiap program yang berjalan.

Langkah ini sebagai respon belum bergeliatnya sektor perjalanan wisata.  Inovasi dapat mengadaptasi promo wisata yang sehat. Sehingga tetap ada jaminan aman dan nyaman bagi wisatawan yang datang.

“Inovasi ini sangatlah penting, agar tetap bisa bernafas. Salah satu inovasi yang bisa dilakukan adalah menerapkan multi market. Artinya beralih atau bahkan memang tidak hanya mengandalkan single market,” jelas Wakil Ketua Bidang Pengembangan Produk Asita DIJ Andri Supriatna Sasmita ditemui di Hotel D’Senopati, Kamis (10/6).

ASITA sendiri terus berinovasi dalam lingkup yang lebih luas. Harapannya dapat menjaring segmen pasar yang lebih komplek. Sehingga tak hanya terfokus pada satu segmen pasar yang sama.

Wujudnya dengan Jogja Bisnis Day pada 17 Juki di Grand Rohan Hotel. Berlanjut dengan ASITA Jogja Travel Fair pada 18 hingga 20 Juni di Sleman City Hall. Kedua kegiatan ini akan mendatangkan agen perjalanan dan Dinas Pariwisata dari luar Jogjakarta bahkan luar Pulau Jawa.

“Setidaknya akan ada 60 agen anggota ASITA Jogjakarta dan 10 travel agen dari luar ASITA yang akan turut berpartisipasi. Tapi ini yang kami undang seller, biasanya itu buyer. Supaya anggota mempunyai multi market,” ujarnya.

Program ini tentu menjadi sebuah kolaborasi. Ini karena destinasi yang ditawarkan juga berasal dari luar Jogjakarta. Tentunya hadir dalam sebuah paket perjalanan wisata.

“Jadi lebih bervariasi karena nanti yang dijual tidak hanya Jogjakarta tapi dari luar juga. Bisa kolaborasi atau dijual dengan paket terpisah. Ya harapannya tadi untuk mempunyai multi market,” katanya.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata DIJ, Marlina Handayani berharap ide ini dapat menjadi terobosoan. Dia menyadari bahwa kondisi pandemi sangatlah berbeda. Paket wisata tak bisa ditawarkan secara gamblang. Ini karena perlu penerapan protokol kesehatan Covid-19.

Menawarkan destinasi wisata diluar Jogjakarta menurutnya adalah inovasi. Kondisi pandemi justru menjadi momen yang tepat untuk berkolaborasi. Terlebih seluruh sektor wisata di Indonesia memang terdampak pandemi Covid-19.

“Ini juga terobosan baru penguatan kemitraan. Memperluas segmen pasar. Kami juga tengah menyusun travel coridor, mulai dari Jawa-Bali maupun daerah lainnya,” ujarnya.(dwi/sky)

Jogja Raya