RADAR JOGJA- Virus corona varian baru belum terdeteksi muncul di Jogjakarta. Pokja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM Gunadi memastikan varian baru Covid-19 belum terdeteksi.

Hal ini dikuatkan dengan pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) terhadap sampel dari Sleman dan Bantul. Hasil ini masuk dalam pemeriksaan 16 sampel.

Tim Pokja Genetik FKKMK UGM melakukan pemeriksaan sampel kepada 16 specimen. Seluruhnya dicurigai sebagai varian Covid-19. Ini karena ada indikasi percepatan perburukan kondisi kesehatan. Detilnya 12 sampel dari Cilacap dan masing-masing satu dari Sleman, Bantul, Solo dan Jepara.

“Kalau varian baru yang sempat heboh itu tidak ada. Tapi sebagian besar B.14.66.2 itu masih kami teliti apakah itu varian lokal Indonesia atau bagaimana,” jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (9/6).

Gunadi mendiskusikan temuan ini dengan tim epidemiologi. Pihaknya juga telah menghubungi Kementerian Kesehatan. Kaitannya adalah dugaan varian lokal Covid-19 yang telah berkembang di Indonesia.

Tim peneliti, lanjutnya, tak menemukan varian baru dari negara luar. Seperti diketahui sempat heboh masuknya varian Inggris dan India yang masuk ke Indonesia. Alhasil sejumlah sampel dikirim ke laboratorium FKKMK UGM untuk menjalani penelitian WGS.

“Bukan varian Delta, kami sebut Delta, karena memang tidak boleh menyebut nama negara. WHO sekarang menghindari stigmatisasi tidak boleh menyebut nama negara asal pertama dideteksi varian itu,” katanya.

Berdasarkan catatan WHO ada penamaan pengganti nama negara. Untuk varian Alpha berasal dari Inggris.  Varian Beta dari Afrika Selatan, varian Gama dari Brazil dan varian India disebut varian Delta. Empat varian ini lah yang menjadi varian of concern dalam WGS.

Sementara untuk hasil dua sampel dari Jogjakarta tak terdeteksi sebagai varian baru. Untuk sampel pasien asal Sleman tak termasuk dalam varian of concern manapun. Sementara sampel dari Bantul memiliki CT value 33.

“Terlalu tinggi, maksimal 25 ke bawah CT valuenya itu. Jadi kalau terlalu tinggi jumlah virusnya terlalu sedikit untuk di-genome,” ujarnya.

Upaya pemeriksaan WGS masih terus berlanjut. Pokja Genetik FKKMK UGM akan melanjutkan pemeriksaan pada 48 sampel. Dari total tersebut, sebanyak empat sampel berasal dari Jogjakarta.

Pemeriksaan WGS ditargetkan rampung dalam sepekan. Dengan rincian memasukan sampel dan persiapan selama tiga hari. Berlanjut satu hari proses masuk dalam mesin. Terakhir adalah penentuan atau pembacaan hasil selama sehari.

“Mungkin minggu ini keluar hasilnya. Selain dari Jogja, sampel yang kami periksa ada titipan juga dari Kemenkes, sampel dari Kudus. Sekarang Kudus prioritasnya, sekitar 35 sampel kami running,” katanya.(dwi/sky)

Jogja Raya