RADAR JOGJA – Kasatreskrim Polres Bantul AKP Ngadi sempat menyebut, berkas perkara kasus sate sianida telah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Bantul. Namun dalam rekonstruksi kasus ini, jaksa yang hadir justru mengungkap institusinya belum menerima berkas kasus ini.

“Sampai saat ini belum dilimpahkan,” beber Tim Jaksa Peneliti P16 Negeri Bantul Ahmad Fikri Pandela kepada awak media usai rekonstruksi kasus sate sianida di halaman Mapolres Bantul, Senin (7/6).

Oleh sebab itu, Fikri enggan dimintai banyak komentar. Sebab, pihaknya belum menerima berkas perkara. “Masih dalam proses penyidikan. Kami baru bisa memberikan keterangan kalau berkas perkara sudah dilimpahkan oleh penyidik ke kejaksaan,” sebutnya.

Sementara terkait kehadirannya dalam rekonstruksi ini, disebutnya hanya untuk memenuhi undangan. “Kami hadiri undangan dari penyidik untuk menghadiri rekonstruksi. Masih menunggu pelimpahan berkas perkara,” ujarnya.

Pada 25 Mei lalu, AKP Ngadi mengatakan, berkas perkara pidana kasus sate sianida sudah dilimpahkan ke kejaksaan. Meskipun pendant baru dipersiapkan. “Pendant baru dipersiapkan, baru proses penyidikan,” ujarnya.

Sementara pada keterangannya kemarin, mantan Kapolsek Pundong itu menyebut akan segera menyempurnakan catatan. Terkait adanya penambahan tujuh adegan yang baru terungkap saat rekonstruksi dilakukan.
Untuk selanjutnya, dilimpahkan ke kejaksaan. “Ke kejaksaan secepatnya, setelah ini. Karena dari kejaksaan sudah kami hadirkan untuk rekonstruksi ini,” ucap perwira polisi ini.

AKP Ngadi pun menyebut, rekonstruksi cukup. Dalam menguatkan pasal yang diterapkan kepada Nani. Pasal 340 KUHP Sub 338 KUHP Sub Pasal 80 ayat (3) Jo Pasal 76C UU RI No 35/2014 tentang perubahan UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Ditambah oleh Pasal 340 KUHP. Dengan ancaman hukum pidana mati atau seumur hidup atau paling lama 20 tahun. “Menurut kami, sudah cukup menguatkan pasal yang diterapkan yang kami tentukan,” ujarnya.

Wanda Satria Atmaja selaku penasehat hukum tersangka sate sianida Nani Aprilliani Nurjaman alias Tika menyebut, rekonstruksi merupakan susunan adegan dari pihak kepolisian. Artinya, memang tindakan yang dilakukan seperti itu. Tapi kejadian sebenarnya tidak dapat ditunjukkan dari rekonstruksi.

“Bukan berarti itu kejadian nyatanya seperti itu. Memang ada niat yang tidak dapat ditunjukkan dalam rekonstruksi ini. Klien kami tidak berniat sama sekali melakukan hal tersebut. Ini spontan sebenarnya, tapi tidak bisa dilihat di rekonstruksi,” kata dia.

Tapi saat disinggung terkait sosok lain yang mempengaruhi kliennya, Wanda menyebut itu kewenangan polisi. Kendati sempat menegaskan ide pembunuhan dengan sate sianida merupakan ide sosok yang berinteraksi dengan kliennya.
Terkait penerapan pasal pembunuhan berencana, Wanda menunggu kepolisian.

Sebab semua akan diungkap di persidangan. “Buka-bukaannya bukan di kepolisian, tapi di pengadilan. Polisi mau menerapkan pasal apa, monggo. Kami tidak ikut campur. Karena bukan kewenangan kami. Tapi nanti saat di persidangan, terhadap pembelaan, jelas kami akan melakukan upaya terbaik,” katanya. (fat/laz)

Jogja Raya