RADAR JOGJA – Dominico Savio Sheva Maresca Amavisca lahir di Jogjakarta, 20 tahun silam. Asli Jawa. Namun, gelandang PSIM Jogja ini memiliki nama berbau Eropa. Seperti apa kisahnya?

ANA R. DEWI, Jogja, Radar Jogja

PEMAIN yang akrab disapa Sheva itu menceritakan, nama tersebut terinspirasi dari mantan penyerang timnas Ukraina sekaligus legenda AC Milan Andriy Shevchenko. Kebetulan sang ayah Heri Purnomo memang sangat mengidolakan sosok Shevchenko.

“Yang ngasih nama itu ayah saya, karena beliau juga suka sepak bola. Nama saya memang panjang, tapi yang saya tahu cuma Sheva karena ngikuti nama panggilan Shevchenko,” ujar Sheva kepada Radar Jogja, Senin (7/6).

Ketertarikan Sheva terhadap sepak bola tak lepas dari peran sang ayah. Yang ketika kecil sering mengajaknya bermain bola di Alun-Alun Selatan, Jogja. Saat itu, usia Sheva baru sekitar 5-6 tahun. “Sampai akhirnya saya suka bola. Lalu, saya di daftarkan ke klub SSB MAS yang ada di Lapangan Minggiran,” kenangnya.

Nama adalah doa. Sesuai dengan namanya, kini Sheva sukses meniti karir di dunia sepak bola. Sebelum berkostum PSIM, pemain kelahiran 23 April 2001 itu pernah membela PSS Sleman, medio 2017-2020. Kala itu, dia bermain untuk akademi PSS U-18 dan U-20. Dan, tahun lalu Sheva jadi satu dari lima pemain akademi yang dipromosikan ke tim senior Super Elang Jawa -julukan PSS.

“Pertama dulu 2017 ikut nasional Soeratin karena pas itu saya magang di PSIM, akhirnya pengurus Sleman bilang kalau mau pinjam pemain buat nasional.

Terus saya masuk di Akademi PSS,” beber pemain yang hobi bersepeda itu.
Uniknya, kedua saudara Sheva juga diberi nama ala pemain top Eropa. Mulai dari sang kakak Laurentius Gustiniani Chiesa Herena Amavisca. Kemudian adiknya, Stanilauts Kotska Iniesta Kaka Sauza Amavisca. Baik Chiesa dan Kaka juga menggeluti sepak bola.

“Adik main sepak bola dan sempat ikut PSIM U-15 di Piala Soeratin. Kalau kakak suka bola, tapi main di kampung saja,” jelasnya. Lantas, masih ada satu adik bungsunya bernama Anggela Clarisa Keyla Wita Riyanti Krismalinda.

Lantas, siapa yang menginspirasi Sheva di lapangan hijau? Untuk pemain lokal dia mengidolakan gelandang PSMS Medan I Gede Sukadana. Selain punya tendangan yang bagus, visi bermain dan kualitas long pass milik Sukadana manjadi alasan Sheva menyukai pemain asal Bali itu. Bahkan, saking ngefans-nya dia juga mengenakan nomor punggung yang sama seperti Sukadana. Yakni, nomor 44.

“Saya senang dulu pas di PSS pernah setim dengan Mas Sukadana. Banyak ilmu yang bisa saya dapatkan, di balik senioritasnya, beliau juga sangat welcome kepada juniornya,” ucap Sheva.

Nah, untuk pemain Eropa, ia begitu mengagumi gelandang Liverpool Thiago Alcantara. Alasannya? Karena pemain asal Negeri Matador itu punya kualitas skill mumpuni. Komplet. Punya visi bermain, kontrol bola maupun kemampuan passing yang oke.

Selama berkarir, Sheva juga pernah membela DIJ di sejumlah ajang tingkat daerah maupun nasional. Seperti Popda, Popwil 2016 dan 2018, Popnas, dan Pra-PON 2019. Selain itu, pada 2019, dia mendapat panggilan seleksi Timnas kelompok umur sebagai persiapan menuju Piala AFF U-18 2019 dan Kualifikasi Piala Asia U-19 2020.

Meski terjun ke dunia sepak bola, Sheva tak lantas melupakan pendidikan. Ke depan, dia berencana melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Sebab, menurutnya, pendidikan itu sangat penting.

“Kemarin saya ingin fokus bermain bola dulu dan sepertinya besok saya akan mencoba mendaftar kuliah. Ayah saya pernah berpesan kalau saya harus serius dalam menjalankan sesuatu. Jangan setengah-setengah. Jadi bola jalan, pendikan juga mengikuti,” tambah Sheva. (laz)

Jogja Raya