RADAR JOGJA – Aiptu Y Tomi Astanto dan istrinya, Shintaresmi, tidak hadir dalam rekonstruksi kasus sate beracun sianida Senin (7/6). Setelah sebelumnya nama mereka sempat hilang dari daftar saksi kasus yang merenggut nyawa Naba Faiz Prasetya, 9, anak driver ojek online (onjol). Padahal rekonstruksi dapat menjadi gerbang pengembangan perkara.

Ketidakhadiran penyidik senior di Polresta Jogja Aiptu Tomi dan Shintaresmi dibenarkan oleh Kasatreskrim Polres Bantul AKP Ngadi. Digelar di halaman Mapolres Bantul, peran Shintaresmi lantas digantikan oleh pemeran pengganti dari kepolisian. “Jadi tadi menggunakan peran pengganti,” ungkap AKP Ngadi kepada awak media kemarin.

Aiptu Tomi dan Shintaresmi bahkan tidak memberi kabar kepada polisi terkait ketidakhadirannya. Sehingga, kepolisian tidak tahu alasan keduanya tidak hadir dalam rekonstruksi kasus yang menarik perhatian masyarakat ini. “Kami belum bisa dapat informasinya (alasan tidak hadir, Red),” sebutnya.

Namun ditegaskan, kepolisian sudah mengundang Aiptu Tomi dan Shinta. “Keduanya itu, yang bersangkutan sudah kami kasih undangan. Namun mungkin ada keperluan,” ucap mantan Kapolsek Pundong itu.

Dalam rekonstruksi yang digelar, tersangka Nani Aprilliani Nurjaman alias Tika memerankan 22 dari 34 adegan. Oleh karena itu untuk sementara tamatan SMP yang mengejar paket C itu ditetapkan sebagai tersangka tunggal terhadap kasus pembunuhan berencana yang sistematis. “Masih tersangka tunggal. Belum didapatkan (perkembangan terhadap tersangka lain, Red),” kata AKP Ngadi.

Sepanjang rekonstruksi, dimulai pukul 09.50 dan baru berakhir 11.05 itu, Nani terus menangis. AKP Ngadi menilai, hal itu terjadi karena Nani tidak biasa dihadapkan dengan situasi yang disorot banyak media. “Menangis kami maklumi, karena tidak biasa,” ujarnya.

Terpisah, pakar hukum dan kriminolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dr Trisno Raharjo SH, M.Hum menyebut rekonstruksi dapat memberi gambaran pengembangan perkara oleh penyidik. Oleh sebab itu, semua pihak yang ada dalam rekonstruksi harus ikut dan memberi masukan akan peristiwa yang diketahui. “Seharusnya pihak yang terhubung wajib hadir dan memberikan masukan terhadap apa yang ia ketahui,” ujarnya.

Ketidakhadiran Aiptu Tomi dan Shintaresmi, saksi dalam rekonstruksi tentu dapat dipersoalkan. Sebab bisa mengurangi fakta yang sebenarnya dari sebuah kasus. “(Bisa, Red) menjadi bagian yang menjadi persoalan, lain yang akan terungkap dalam persidangan. Bila hal itu (fakta sebenarnya menjadi tidak terungkap, Red) ada hubungannya,” papar Trisno.

Sekalipun tidak ada perkembangan baru, kehadiran Aiptu Tomi dan Shintaresmi sebagai saksi tetap penting. Sebab telah mendukung upaya kepolisian dalam menyelidiki perkembangan perkara. “Pengembangan perkara itu tercatat dengan baik,” ujarnya.

Pernyataan dekan Fakultas Hukum UMY itu terbukti. Dalam rekonstruksi, adegan yang tercatat awalnya hanya 27, kemudian berkembang menjadi 34 adegan. (fat/laz)

Jogja Raya