RADAR JOGJA – Siapa tak kenal pasukan oranye? Ya, mereka biasa dikenal sebagai pasukan kebersihan atau petugas sampah untuk wajah Kota Jogja yang lebih bersih. Ternyata ada satu di antara pasukan oranye itu sebagai pahlawan yang berperan penting membantu mengurangi sampah.

WINDA ATIKA IRA PUSPITA, Jogja, Radar Jogja

Dia adalah Wintala, petugas sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja. Bergabung sejak tiga tahun yang lalu sebagai petugas sampah di depo pembuangan sampah Argo Lobang sektor Gunungketur. Aktivitasnya tidak hanya memilah-milah sampah, tetapi termasuk mengolah sampah organik untuk dibawa pulang.

“Coba-coba saja awalnya, dipilah supaya sampah bisa dimanfaatkan kembali. Spontan aja saya,” kata Wintala kepada Radar Jogja di rumahnya, Banguntapan Bantul, Jumat (4/6).

Pekerjaannya sering dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Namun tidak banyak orang mengira bahwa menjadi seorang tukang sampah adalah pekerjaan yang mulia.

Terlebih, Wintala ini yang berani memiliki inisiatif untuk membantu Pemkot Jogja mengurangi timbangan sampah yang dibuang ke tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Piyungan, Bantul. Padahal tugas utamanya hanyalah memilah, membersihkan, merapikan, dan menaikkan sampah ke atas dump truck.

“Saya sering bawa pulang sampah yang masih bisa saya manfaatkan seperti kangkung, bayam, kulit pisang, wortel. Macam-macamlah. Sayur-sayuran expired yang dibuang dari supermarket juga ada,” ujarnya.

Lalu, untuk apa sampah-sampah yang dibawa pulang itu? Siapa sangka, ternyata laki-laki usia 51 tahun itu memiliki banyak ternak yang membutuhkan pakan sehari-hari. Pakannya ia ambil dari hasil sampah organik yang diolahnya seorang diri.

Saat koran ini mendatangi lokasi ternaknya di Nglebeng RT 01, Tamanan, Banguntapan, Bantul, tak jauh dari rumahnya, memang tak sedikit ternak yang ada. Lahan ternak yang ada tak hanya yang ia punyai. Ada beberapa ternak dari anggota kelompok lain. Tetapi, ia mengelola secara pribadi. Ada ternak kambing, ayam, dan ikan.

Sepulang dari pekerjaan utamanya di depo, Wintala sibuk menyiapkan pakan sehari-sehari untuk ternaknya, terutama kambing saat itu. Berkarung-karung sampah organik yang dibawanya pulang untuk kebutuhan pakan ternak-ternaknya. “Paling banyak yang saya olah ya sayur. Dalam sehari bawa pulang tiga karung, hampir 500 kilogram beratnya,” jelasnya.

Siklus setiap hari yang dilakukan usai memilah sampah di depo. Di antara sampah organik yang dipilah, dibawanya pulang dengan roda dua. Setelah itu sampah masuk proses pencucian, pengeringan atau ditiris agar airnya turun. Lalu baru diberikan ke ternak kambing.

Sorenya kala ada sisa makanan dari ternak kambing tersebut, kemudian diambil lagi untuk makan maggot. Biasanya sisa makanan itu paling banyak 50 kilogram untuk makan maggot.

“Maggot siklus lagi 3-5 hari panen terus. Nanti untuk makanan ikan dan ayam, nah cairan kotoran ternak kencingnya sama intil buat pupuk tanaman,” terangnya.

Sampai saat ini ternak kambing yang ada sebanyak 13 ekor, ayam 50 ekor, ikan jenis patin, nila, bawal, dan lele tiap empat bulan bisa panen dua kuintal. Sementara untuk kambing biasa terjual setiap tahun untuk kebutuhan Idul Adha.

Pendapatannya saat ini tidak hanya mengandalkan dari gaji bulanan, ditambah pendapatan pribadi dari usaha ternak yang dikelolanya. “Awal modal beli ternak dulu dari gaji saya yang disisihkan dan ditabung. Dari hasil gaji pertama saya punya lima ekor kambing. Sampai sekarang tiga tahun sudah masuk 13 ekor,” jabarnya.

Satu ekor kambing dibanderol Rp 2,5 juta kala hari-bari biasa. Menjelang Idul Adha dimungkinkan harga menyesuaikan pasaran. Sementara untuk sekali panen ikan bisa mencapai Rp 4 jutaan. “Keunggulan kambing saya, ya pakannya organik dari sayur-sayuran yang saya olah dari sampah sisa-sisa,” cetusnya.

Terpisah, Kabid Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Haryoko mengatakan, tidak hanya dengan keberadaan TPST 3R (reuse, reduce, recycle) Nitikan yang dimaksimalkan untuk proses pemilahan sampah. Terlebih, tempat ini yang dijadikan sebagai pilot project dalam mengelola sampah sebelum dibuang ke TPST Piyungan.

Justru ia juga mendorong petugas sampah bisa melakukan hal yang sama seperti Wintala. “Kalau di sini mau kreatif, duitnya, gajinya bisa dobel. Kita nggak melarang untuk inisiatif seperti itu, justru kita dorong,” katanya.
Menurutnya, dengan aktivitas yang dilakukan Wintala mampu mengurangi sampah yang ditimbang ke TPST mencapai 1,5 ton dalam sebulan. Rata-rata dalam sehari 500 kg sampah yang bisa dikurangi dan bisa diolah.

Tidak hanya membantu peran DLH, aktivitas tersebut juga bisa membangkitkan ekonomi salah satu SDM-nya itu. “Belum ada yang sekreatif beliau dan setotal beliau. Kalau yang lainnya masih milahin terus dijual. Jelas ini sangat membantu ketugasan DLH dalam mengurangi dan mengolah sampah,” tambahnya. (laz)

Jogja Raya