RADAR JOGJA – Mana yang lebih penting, kesehatan atau ekonomi? Bagi Pemkot Jogja, keduanya sama pentingnya. Sehingga penanganan Covid-19 serta pemulihan ekonomi menjadi fokus yang dikerjakan bersamaan oleh jajaran Pemkot Jogja. Semangat itulah yang akan dijalankan dalam peringatan HUT ke-74 Pemkot Jogja hari ini (7/6).

Pandemi Covid-19, yang sudah berlangsung setahun lebih ini, diakui
Wali Kota Jogja Haraydi Suyuti membuat jajarannya di pemkotharus beradaptasi dengan kebiasaan baru. Mulai dari penerapan protokol kesehatan, jaga jarak hingga work from home. Tapi setelah setahun, hal-hal tersebut mulai jadi kebiasaan. Sehingga penanganan Covid-19 sekaligus pemulihan ekonomi bisa dijalankan. “Jadi tantangan bagi kami (pemkot) untuk membuat inovasi pelayanan ke masyarakat dengan tetap menerapkan prokes,” tuturnya.

Kerja keras jajaran pemkot Jogja pun mulai menunjukkan hasil. Dalam penanganan Covid-19 di Kota Jogja relatif terkendali. Termasuk menggenjot vaksinasi. Dari sisi ekonomi pun, kegiatan di masyarakat bisa tetap berjalan dengan prokes ketat. Salah satu indikatornya, dari jumlah pengangguran yang diprediksi meningkat hingga 12 persen,  ternyata hanya naik 0,4 persen. Dari 6,8 persen menjadi 7,2 persen. “Karena itulah tema HUT Pemkot ke-74 ini adalah ‘Bersinergi Melanjutkan Penanganan Covid-19 untuk Pemulihan Ekonomi,” ungkapnya.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi menambahkan, yang dilakukan Pemkot Jogja saat ini tak lagi sekadar membuat warga untuk bertahan di masa pandemi ini. Tapi menyiapkan diri untuk bangkit. Bersiap menghadapi kondisi pasca-pandemi. HP mengibaratkan seperti proses metamorfosis ulat menjadi kepompong dan akhirnya menjadi kupu-kupu. “Sekarang ini fasenya menjadi kepompong, yang begitu keluar menjadi kupu-kupu yang indah, yang saat terbang membuat terkagum-kagum,” jelasnya.

Yang dilakukan pemkot saat ini, lanjutnya, adalah membuat masyarakat siap bangkit. Tanpa melupakan proses penanganan Covid-19. Untuk kesehatan, proses vaksinasi pun terus digenjot. Dengan memperluas cakupan penerima. Tapi, sebagai daerah wisata, sekaligus mempersiapkan sarana dan prasarana. “Menyiapkan masyarakat bisa segera berlari begitu selesai pandemi. Mewujudkan Jogja baru yang lebih segar,,” ungkapnya.

Hal itulah yang dalam setahun terakhir terus dikerjakan pemkot. Di antaranya dengan pembangunan infrastruktur pedestrian. Sudah dibangun di kawasan pedestrian Malioboro, Tugu hingga Kotabaru. Untuk mendukungnya pun kini disiapkan pengaturan lalu lintas dengan jalur giratori. Selain itu juga jalur sepeda.

Tak hanya pembangunan fisik, untuk pelayanan masyarakat di masa pandemi ini pun, jajaran pemkot diminta berinovasi. Hasilnya, selama 2019-2020 lalu dari 36 OPD mampu menghasilkan 136 inovasi pelayanan. Bukti lainnya adalah opini wajar tanpa pengecualian (WTP) selama 12 tahun berturut-turut. Bahkan pada tahun ini, Pemkot Jogja juga berhasil memperoleh Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) dengan predikat A.

Menurut dia, pencapaian tersebut bisa diraih dengan kerja sama semua OPD di lingkungan Pemkot Jogja. Salah satu yang menjadi perhatian HP adalah mengintegrasikan program tiap OPD. “Tiap OPD harus terintegrasi mengembangkan kawasan dalam satu perencanaan, dalam satu tarikan nafas,” katanya.

Bagaimana hal itu bisa diwujudkan? Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Jogja  Aman Yuriadijaya menyebut, karena Pemkot Jogja menerapkan pendekatan yang berbeda. Yaitu, dengan menetapkan fokus pemkot dan apa yang bisa dikontribusikan tiap OPD untuk mewujudkannya. “Integrasi multi sektor dan apa kontribusi tiap OPD,” ungkapnya.

Aman pun memaknai HUT Pemkot ke-74 ini sebagai langkah berkesinambungan dengan yang dilakukan tahun lalu pada awal pandemi. Yaitu dalam penanganan Covid-19 yang berorientasi prokes tak hanya dalam kesehatan tapi dalam rangka pemulihan ekonomi untuk mensejahterakan masyarakat. “Perlu keseimbangan agar penanganan kesehatan tetap menjadi kondisi kondusif pemulihan ekonomi,” paparnya. (wia/pra)

Jogja Raya