RADAR JOGJA – Catatan sejarah membuktikan, kegiatan petan sudah ada sejak abad ke-14. Di mana terdapat relief tokoh Punokawan yang tengah melakukan kegiatan semacam petan di Candi Surawana, Kediri, Jawa Timur.

“Di Candi Surawana ada relief sosok manusia berkegiatan petan. Meskipun bukan real manusia. Tapi tokoh wayang Punokawan. Menurut saya Jawa banget,” sebut Guru Besar Antropologi UGM Prof Drs Heddy Shri Ahimsa-Putra MA, M.Phil, Ph.D dihubungi Radar Jogja Jumat (4/6).

Petan sendiri memang berasal dari Bahasa Jawa. Asal katanya dari kata “pet”, yang artinya mencari-cari. Orang Jawa yang terbiasa menggunakan imbuhan “-an” kemudian menyebut aktivitas ini dengan petan. “Pastinya nyari kutu di rambut. Jadi kegiatan petan itu adalah kegiatan untuk mencari kutu di rambut atau kepala,” bebernya.

Kegiatan menelisik ini kemudian mengalami perluasan makna. Berubaha menjadi metamor. Misalnya menjadi sebutan, ojo metani. Di mana artinya mencari-cari kesalahan.

Petan umumnya banyak dilakukan di kalangan perempuan. Kendati begitu, petan juga dilakukan oleh pria. Sebab aktivitas petan yang terukir di relief Candi Surawana dilakukan oleh Punokawan yang notabenenya adalah laki-laki. Jadi sebetulnya petan itu tidak harus perempuan.

Hanya, kalau laki-laki berani gundul. “Gundul bersih. Kalau perempuan gundul jarang sekali. Cuma orang eksentrik saja. Seperti Gusti Arirang, vokalis Tashoora yang anaknya Djaduk itu,” ucap Prof Heddy, kemudian terkekeh.

Sementara alat yang digunakan adaalah sisir atau serit. Rambut yang disisir dapat membuat kutu jatuh. Atau minimal menampakkan kutu. “Pertama pakai sisir dulu kalau di rambut tidak ada, baru mencari di kulit kepala. Kutu kan bersembunyi di kulit kepala kemudian merembet ke rambut. Alat utama sisir, memang efisien untuk itu,” ujarnya.

Petan pun ternyata memunculkan kebiasaan baik. Sebab banyak perempuan yang kemudian bisa kerjasama. Dalam kegiatan petan bisa muncul kesetiakawanan. Selain itu menjadi arena bertukar informasi dan bekerjasama. “Dampaknya integrasi sosial lebih erat. Duduk melingkar bisa saling metani.

Satu melihat kepala lainnya. Dan dari situ bisa macam-macam,” sebutnya.
Saat kebersihan meningkat dan pengobatan berkembang, petan pun mulai memudar. Selain itu, petan dianggap tidak efisien. “Itu di masa lampau. Nggak kenal sampo seperti sekarang atau antiketombe. Jadi kutu mudah di kepala,” jelasnya. (fat/laz)

Jogja Raya