RADAR JOGJA – Petan atau metani tumo (kutu rambut) sangat populer sebelum tahun 1990-an. Minimnya produk sampo kala itu, menjadi faktor kebersihan rambut kurang terjaga. Sehingga mudah disusupi kutu. Terlebih jika berada di lingkungan yang berkutu. Itu akan sangat mudah tertular.

Petan umumnya dilakukan oleh kaum hawa. Biasanya dilakukan dengan duduk berbaris. Dilakukan di tangga, berderet dari atas ke bawah. Tradisi ini juga mengundang kerekatan, lantaran di sela-sela mencari kutu, mereka bisa bergosip. Menceritakan hal-hal yang terjadi di lingkungannya.

Masa-masa ini pernah dirasakan Panewu Cangkringan Suparmono. Sewaktu kecil di tempat tinggalnya sekitar Pasar Kranggan, Cokrodinigratan, Jetis, Kota Jogja. Saat itu, pemukiman warga sudah relatif padat. Dan kegiatan ibu rumah tangga di siang hari, sembari istirahat mengobrol mereka sambil saling petan. Dilakukan secara berderet.

“Dulu saya pernah punya tumo (kutu, Red) tapi oleh ibu saya disureni,” ungkap Suparmono kemarin (4/6). Sureni, mencari kutu dengan menggunakan suri atau serit. Terbuat dari kayu seperti sisir, tapi geriginya lebih rapat.

Saat itu dia masih SD. Maraknya kutu kala itu, dia pernah diminta mencari kutu ibunya. Tetapi gengsi jika harus ikut nimbung petan dengan ibu-ibu di kampungnya. Dia memilih menggunakan suri untuk menghilangkan kutunya.
Mulai memasuki era 1990-an, tradisi petan mulai luntur. Seiring maraknya produk “sabun kepala” dan obat pemberantas kutu. Selain itu juga marak salon. Mulai saat itu, kesadaran kebersihan rambut mulai terjaga.

Seorang warga Tempel, Rani, 32 mengaku dulu dia kerap mencari kutu. Menurutnya, ada kenikmatan tersendiri saat mencari kutu. Lepas dari bergosip, keseruannya saat menggilas kutu dengan dua kuku jari jempol. Begitu menggitas, ada kepuasan tersendiri. “Mak tes, itu bunyinya,” katanya.

Kutu ini disebut menular. Seseorang yang dekat dengan orang lain yang berkutu, disebut-sebut akan mudah tertular. Bahkan orang dulu meyakini setiap Kamis malam merupakan waktu telur-telur kutu menetas. Dari linso (telur kutu), anak kutu (kor) hingga kutu dewasa.

Kalau tidak dicari, ini semakin parah. Bisa menimbulkan borokan pada kulit. “Kalau sekarang, udah nggak ada kutu lagi. Jadinya ya jarang petan. Praktis udah nggak ada orang petan,” ungkapnya. (mel/laz)

Jogja Raya