RADAR JOGJA- Wujud keprihatina atas kondisi pelayanan wisata di Jogjakarta. Mulai dari viral pecel lele Malioboro, jip wisata Merapi hingga tarif parkir Nuthuk di jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan, sejumlah warga Jogjakarta membagikan 100 bungkus pecel lele kepada pengunjung kawasan Malioboro.

Aksi bagi-bagi pecel lele ini sebagai simbol kepedulian terhadap citra wisata di Jogjakarta. Terlebih setelah dirundung beragam kasus viral di media sosial. Harapannya ada aksi nyata dari pemerintah untuk mengangkat kembali citra wisata Jogjakarta.

SIMBOL: Diaz Kaslina mengatakan, aksi bagi-bagi pecel lele ini sebagai simbol kepedulian terhadap citra wisata di Jogjakarta. Terlebih setelah dirundung beragam kasus viral di media sosial. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)

“Kami dan teman-teman sebagai warga Jogja prihatin atas kasus viral belakangan ini. Aksi ini sebagai promosi bahwa Jogjakarta itu sebenarnya kota ramah wisata. Harusnya ini dilakukan oleh pemerintah,” jelas warga peduli wisata Jogjakarta Diaz Kaslina ditemui di depan bekas kantor Dinas Pariwisata DIJ, Kamis sore (3/6).

Diaz menilai langkah ini seharusnya menjadi bagian gerakan dari pemerintah. Tak cukup berhenti dengan mengekspos sanksi kepada oknum pedagang nakal. Namun ada upaya memperbaiki citra wisata di mata wisatawan.

Warga Jogja, lanjutnya, prihatin atas permasalahan yang terjadi. Imbasnya adalah citra wisata Jogjakarta di mata wisatawan memburuk. Tercermin dari beragam komentar di media sosial.

“Menurut kami selain permanisime oknum pelaku wisata tapi juga jadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah. Untuk menaikan standar wisata di Jogjakarta agar pelaku pariwista bisa mendapatkan kesejahteraan dari wisata,” katanya.

Dia juga berpesan agar pedagang lesehan jujur. Dengan memasamg daftar harga dan daftar menu di setiap warungnya. Selain itu juga memampang dengan bahasa yang jelas. Tujuannya agar tidak ada kesalahan persepsi oleh pembeli.

“Berapapun harganya harus dipasang di display price list agar konsumen tidak kaget. Mungkin di lesehan dengan di ruko itu beda harga. Tapi paling penting daftar menu dan daftar harga harus ada,” ujarnya.

Aksi bagi-bagi 100 pecel lele sendiri secara tidak langsung melibatkan pedagang lesehan kawasan Malioboro. Ini karena seluruhnya dibeli dari pedagang di kawasan tersebut. Isinya berupa nasi pecel lele lengkap dengan sambal dan lalapan.

Ratusan bungkus pecel lele dalam kotak kardus ini dibagikan kepada pengunjung yang lewat. Pecel lele dibeli dengan harga beragam. Tepatnya dari harga Rp 18 ribu hingga Rp 23 ribu.

“Tidak ada organisasi apapun dibelakang aksi ini, bukan dari pedagang Malioboro juga. Tapi belinya memang dari pedagang lesehan Malioboro,” katanya. (dwi/sky)

Jogja Raya