RADAR JOGJA – Wisatawan Malioboro diminta tidak sungkan melaporkan ke pihak terkait apabila mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan selama berwisata. Dengan melapor, berbagai tindakan bisa diambil dan tidak salah sasaran.

Baru-baru ini ada lagi aduan yang muncul melalui akun media sosial milik Pemkot Jogja. Ada wisatawan yang mengadukan lewat kolom komentar postingan Instagram terkait tindakan yang tidak menyenangkan dari pedagang kaki lima (PKL) Malioboro.

Perlakuan tidak menyenangkan itu, usai wisatawan tawar menawar tetapi tidak selesai pada transaksi lantaran merasa harga yang ditawar masih kurang cocok. “Kami perwakilan dari komunitas berpesan kepada customer jangan takut adukan di mana dan siapa perlakuan atau nilai-nilai tidak menyenangkan itu terjadi. Supaya kami dalam mengambil tindakan tepat sasaran,” kata Ketua Koperasi Tridharma Rudiarto Selasa (1/6).

Ia menjelaskan selama ini telah menyarankan dan mensosialisasi kepada seluruh anggota komunitasnya melayani dengan 3S, yaitu senyum, sapa, dan salam kepada konsumen agar Jogja bisa nyaman dikunjungi dan dihuni. Bagaimana juga bisa berlaku seperti orang Jogja pada umumnya yang dikenal di luar sebagai orang yang ramah budaya Jawanya.

Sebab, bagaimanapun para pedagang kaki lima (PKL) Malioboro selalu menggantungkan hidupnya dari wisatawan yang datang. “Tapi kalau secara objektif kita melihatnya, ada juga wisatawan yang tidak bisa mengkondisikan sesuai kondisi di Malioboro, misalnya budayanya. Sehingga menyulut emosi pedagang,” ujarnya.

Tidak dipungkiri komposisi latar belakang dan budaya PKL Malioboro berbeda-beda. Walaupun secara administrasi mereka orang Kota Jogja yang sudah berasimilasi dengan Jogja. Namun, secara fisik mereka berlatar belakang budaya yang berbeda. Ada orang Padang, Madura, Batak, dan masih banyak lainnya. Sehingga, penerimaan dalam hal tawar menawar tergantung yang dilakukan dari konsumen.

Ketika konsumen cara tawar menawarnya sopan, maka komunitas pedagang pun akan melayani dengan lebih sopan. “Jadi wisatawan juga harus cerdas bagaimana menyikapinya. Kalau memang ingin dihargai di Malioboro, tentu harus menghargai juga yang ada di Malioboro,” jelasnya.

Ia menyebut di Malioboro itu bisa “sok kenal sok dekat” pasti harganya akan khusus, seperti harga teman. “Berbeda ketika diawali dengan seolah-olah meremehkan PKL, maka harganya malah akan dimainkan,” tambahnya.
Sementara itu Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Ekwanto juga meminta kepada wisatawan agar bersikap cerdas, menanyakan harga saat akan makan atau berbelanja di sepanjang Jalan Malioboro. Agar tidak terjadi kesalahpahaman antarsesama.

“Saya kira kalau tawar menawar itu bukan di kuliner, mungkin suvenir. Tapi itu hal biasa, tidak masalah karena hukum pasar itu sudah berlaku di sana,” katanya.

Namun demikian jika terdapat wisatawan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan usai tawar menawar itu, bisa langsung melaporkan aduan ke petugas keamanan Jogoboro yang ada di tiap gerbang zona. Atau bisa melalui layanan aduan telepon selama 24 jam. Informasi layanan aduan sudah tertera pada gerbang tiap zona di Malioboro.

“Kalau ada kerugian atau hal-hal yang tidak menyenangkan, ada posko layanan aduan di sana. Kalau ada aduan, pasti kami tindak lanjuti,” ujar Ekwanto.
Pihaknya juga sudah meminta kepada komunitas Malioboro untuk senantiasa berupaya meningkatkan pelayanan kepada pengunjung. Setiap satu bulan sekali mengadakan pertemuan kepada komunitas untuk menyampaikan berkaitan memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan.

Sampai sekarang, UPT belum menerima aduan apapun dari wisatawan melalui saluran pengaduan yang dibukanya. “Entah karena malas melapor atau sebab lain,” tandas Ekwanto. (wia/laz)

Jogja Raya