RADAR JOGJA – Satu dari tiga pemilik warung di sirip kawasan Malioboro, Jalan Perwakilan, yang terindikasi nuthuk akhirnya dijatuhi sanksi penutupan sementara. Hal itu karena terbukti telah menjual makanan pecel lele di atas harga kewajaran hingga viral di media sosial.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, ketiga pemilik warung sudah menjalani pemeriksaan oleh Satpol PP Kota Jogja di kantornya Senin (31/5). Mereka adalah pemilik Rumah Makan (RM) Cipta Rasa, RM Pojok 3 dan RM Baroqah yang berada di satu kawasan.

“Tapi hanya satu warung yang dijatuhi sanksi karena terbukti bersalah,” kata Heroe di ruang kerjanya, Senin (31/5). HP menjelaskan, satu warung itu adalah RM Baroqah yang lantas geger sejagat sosial media hingga akun instagram @lambe_turah pun merepost peristiwa tersebut. Akibat dari kesalahannya itu, warung terpaksa ditutup sementara sampai 6 Juni, sejak Sabtu (29/5).

RM Cipta Rasa dan RM Pojok 3 memang sempat ditutup 29 Mei lalu sampai kemarin (31/5), namun sudah mulai beroperasi kembali per hari ini (1/6). “Dua di antaranya mulai diizinkan membuka, karena tidak termasuk yang melakukan nuthuk. Tapi mereka juga kita minta untuk membongkar bangunan yang ada di trotoar, mengubah daftar harga supaya lebih jelas dan tidak terlalu tinggi dengan alasan apa pun,” ujarnya.

Menurutnya, tiga warung itu memang sama-sama memasang harga tinggi. Konsekuensinya, seluruh rumah makan itu diminta untuk merombak daftar harga menu yang dibanderol sebelumnya, agar dapat dipahami bersama antara penjual dan pembeli. “Jadi kita tidak mengatur harga, tapi supaya list harga bisa dipahami bersama-sama, bukan cuma penjualnya saja,” jelasnya.

Kenapa sanksi hanya ditutup sementara? Karena pemilik warung makan di Jalan Perwakilan itu berbeda dengan PKL. Di mana mereka memiliki lahan sendiri maupun sewa, sehingga lebih terlindungi dalam proses berusahanya daripada PKL yang memakai lahan publik atau Pemkot Jogja.

“Karena ini berbeda dengan PKL. Kalau PKL tidak mempunyai tempat. Ini warung yang punya toko, baik punya sendiri atau mereka sewa,” terang HP.
Sementara, Kepala Satpol PP Kota Jogja Agus Winarto mengatakan, meskipun sudah dikenai sanksi non yustisi, sanksi yustisi tetap masih berproses. “Kita sanksi non yustisi, untuk yang yustisi nanti berproses,” katanya.

Salah seorang dari ketiga pemilik warung, Apriyanto meminta maaf kepada masyarakat karena menimbulkan kegaduhan akibat polemik ini. Namun warung miliknya bukanlah yang viral akibat tuduhan nuthuk. Hanya terdampak, karena berada pada kawasan yang sama dan menerapkan harganya pun serupa.

“Jadi kami mengakui, kami minta maaf kepada masyarkat karena sudah mencoreng Jogja. Kami menerima sanksi tiga hari tutup, insya Allah ikhlas,” katanya kepada awak media usai pembinaan oleh Satpol PP Kota Jogja.
Dia juga berbesar hati untuk menerima konsekuensinya dengan mengubah harga daftar menu agar tidak multitafsir diterima oleh pelanggan. Meskipun kawasan berjualannya diklaim berbeda dengan PKL Malioboro. Mereka berjualan berada pada di pertokoan, resto.

“Karena diminta sama, kita tetap standarkan, samakan, sehingga Jogja tidak gaduh, tetap aman untuk berwisata. Jadi hari ini semua menu kita ubah, kita akan standarkan dengan yang ada,” tandasnya.

Selama ini diakui bahwa tiga warung itu tidak menjual pecel lele secara terpisah. Jarga pecel lele yang dibanderol Rp20 tibu satu paket dengan lalap dan sambal. Ditambah nasi Rp7 ribu, sehingga ditotal menjadi Rp 27 ribu.

“Kenapa ada lalapan harga Rp10 ribu, itu karena dia minta sendiri terpisah. Itu juga untuk kapasitas empat orang. Kalau dia nggak memesan lalapan lagi, ya tidak kami kasih,” ungkapnya.

Sementara Ketua Forum Komunikasi dan Koordinasi Jalan Perwakilan Adi Kusuma mengatakan, permasalahan ini sudah diatur oleh pihak terkait dan sudah memperoleh pembinaan. Sehingga klarifikasi semua dianggap sudah selesai, sebab terkait masalah ini sudah mendapatkan keadilan satu sama lain.
“Mohon semua pihak meredam dan jika ada salah teman-teman PKL atau pedagang di area Malioboro untuk dimaafkan,” tambah Adi. (wia/laz)

Jogja Raya