RADAR JOGJA – Ketua Forum Komunikasi dan Koordinasi Jalan Perwakilan Adi Kusuma memastikan jajarannya telah melakukan pembinaan kepada pedagang pecel lele nuthuk. Tindaklanjutnya berupa penutupan sementara hingga hari ini Senin (31/5) Dilanjutkan dengan penutupan selama sepekan Minggu (6/6).

Pihaknya juga meminta maaf atas kejadian tersebut. Hingga akhirnya membuat citra wisata Jogjakarta khususnya Malioboro tercoreng. Upaya evaluasi dilakukan dengan pembenahan daftar menu dan daftar harga.

“Sudah diberi pembinaan, jika ada salah satu dari PKL atau pedagang membuat tidak nyaman wisatawan di Malioboro kami mohon maaf,” jelasnya ditemui di Kantor Satpol PP Kota Jogja, Senin (31/5).

Pemberian sanksi dan pembinaan tak hanya berlaku kepada satu pedagang. Tercatat ada dua pedagang lain yang terindikasi melakukan hal yang sama. Berupa pemasangan daftar harga dan menu serupa.

Imbas dari daftar menu dan harga menimbulkan multi tafsir. Pembeli maupun wisatawan menganggap harga tercantum adalah paketan. Faktanya menu yang disajikan berbeda dengan bayangan konsumen.

“Pedagang ini baru semua dan ini sudah kami rangkul. Sanksi kali ini kena teguran dan akan memberikan pembinaan. Untuk menyeragamkan harga atau setidaknya tercantum dengan jelas dan mudah dipahami,” katanya.

Pemilik rumah makan Pojok 3 Apriyanto mengakui kesalahannya. Berupa pemasangan harga yang tidak sesuai ketentuan. Dia dengan legowo menutup usahanya sejak Sabtu (29/5) hingga hari ini (31/5).

Dia berjanji akan mengubah seluruh daftar menu dan harga. Untuk menyesuaikan dengan ketentuan harga di kawasan Malioboro. Selain itu juga mencantumkan secara jelas menu dan isi paket kuliner.

“Kami minta maaf karena standar harganya tidak sama dan membuat kegaduhan. Besok kami bisa buka lagi,” ujarnya.

Walau begitu Apriyanto sedikit menjelaskan munculnya selisih harga. Ini karena ada beban biaya sewa yang dia tanggung. Apalagi lokasi berjualannya berada di kawasan pertokoan.

Selain itu perbedaan harga adalah beban sewa toko. Sehingga menurutnya wajar apabila harga kuliner di wilayah pertokoan tidak sama dengan PKL. Ini karena selisih harga sudah termasuk perhitungan sewa toko.

“Sebenarnya beda dengan kaki lima karena kami di toko, tapi kami akan standarkan harga, tetap aman untuk wisata,” katanya.

Pemilik warung makan Cipta Rasa Noverda Haryanti juga terimbas. Walau warungnya bukan lokasi tempat pecel nuthuk, tapi tetap berdampak. Telebih daftar menu dan harga yang dia cantumkan mirip dengan pecel lele viral.

Dalam kesempatan ini, Yanti, sapaannya, sedikit meluruskan kabar yang beredar. Pematokan harga Rp 10 ribu untuk lalapan sayur masih wajar. Ini karena paket lalap tersebut untuk 4 hingga 5 orang.

“Harga Rp 10 ribu itu buat kapasitas 4 orang sampai 5 orang bukan cuma untuk 1 orang. Kalau tidak pesan lalapan ya tidak (kami) kasih. Harga pecel lele itu include sambel minus nasi Rp 7 ribu,” ujarnya.(dwi/sky)

Jogja Raya