RADAR JOGJA – Warga Padukuhan Temben, Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulonprogo berharap adanya pembangunan jembatan permanen. Pasalnya, jembatan bambu di wilayah tersebut sering hanyut ketika terjadi banjir di Sungai Progo.

Salah satu warga, Sumarno mengatakan jembatan yang dibuat dari hasil swadaya masyarakat tersebut merupakan akses bagi warga dua desa yakni Ngentakrejo dan Gulurejo. Jembatan atau sesek itu merupakan penghubung kabupaten Kulonprogo dengan kabupaten Kulonprogo melalui Sungai Progo.
Jembatan tersebut, jelasnya hanyut dikarenakan adanya luapan di Sungai Progo, Selasa (25/5) sekitar pukul tiga pagi. Diduga banjir tersebut terjadi karena adanya air kiriman dari wilayah Magelang, Jawa Tengah.

Diketahui, sesek Temben memang cukup sering hanyut dikarenakan arus Sungai Progo. Terlebih ketika musim hujan tiba dan ada kiriman air meluap dari wilayah lain. “Jadi air-nya itu meluap melebihi sesek (jembatan bambu) yang kemudian membuat jebol seperti ini,” ujar Sumarno.

Meski jembatan bambu tersebut bukan akses vital, Sumarno menyatakan sesek Temben merupakan akses tercepat bagi warga untuk menuju kabupaten Bantul. Jika dibandingkan dengan jembatan yang berada di Bendungan Kamijoro atau Bendungan Sapon.

Sebab, lanjut Sumarno, apabila melewati dua jembatan tersebut warga harus memutar cukup jauh hingga 5 kilometer. Sehingga kehadiran sesek memang cukup membantu kebutuhan warga perihal aksesibilitas.

Dengan sering hanyutnya jembatan bambu itu, Sumarno berharap pemerintah setempat bisa melakukan pembangunan jembatan permanen. Sehingga nantinya warga bisa memiliki akses lintas wilayah yang lebih efisien.
“Sesek Temben memang jadi pilihan bagi warga Gulurejo dan Ngentakrejo menuju Bantul dan Jogja karena lebih efisien waktu dan bahan bakar,” ungkapnya.

Terpisah, Wakil Bupati Kulonprogo Fajar Gegana mengatakan bahwa terkait dengan penyediaan jembatan permanen di Padukuhan Temben, pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk realisasi pembangunanya. Hal itu, karena anggaran pembangunan jembatan perlu biaya yang cukup besar dan perencanaan yang matang.

Untuk sementara ini, Fajar berharap agar masyarakat memanfaatkan terlebih dahulu akses yang bisa digunakan yakni bendungan Sapon dan Kamijoro. “Untuk membikinkan jembatan khusus penyebarangan tentu biayanya akan sangat besar. Sehingga akan kami coba komunikasikan ke provinsi,” ungkap Fajar. (inu/bah)

Jogja Raya