RADAR JOGJA – Di Kabupaten Sleman 16.962 siswa dari 544 sekolah dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan kelompok belajar paket A mengikuti ASPD. “Kami tinjau ASPD hari ini (Kemarin, red) ke empat sekolah,” ujar Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo Senin (24/5).

Ke-4 sekolah yang ditinjau badalah SDN Pandowoharjo (Sleman), SDN Rejodani (Ngaglik), SDN Ngablak (Turi) dan SDN Margorejo (Tempel). Hasil pantauan, semua berjalan baik, sesuai protokol kesehatan (prokes).

Kustini menyebut, ASPD dilakukan untuk pembelajaran tatap muka (PTM) yang rencananya digelar Juli. Meskipun dibatasi 50 persen dan satu minggu digelar dua kali luring. “Pantauan tadi, siap semua. Anak-anak maupun guru,” tambahnya.

Istri mantan Bupati Sleman Sri Purnomo ini menyebut di wilayahnya masih ditemui zona merah. Kendati demikian, ujian ASPD tetap dapat digelar dalam zona itu.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman Ery Widaryana menambahkan, jumlah sekolah yang mengikuti ujian ASPD terdiri atas 510 SD, 24 MI, dan 10 kejar paket A. Pihaknya menerjunkan 1.318 pengawas.

“ASPD tidak menentukan kelulusan,” ujar Ery. Tujuannya untuk mengevaluasi pembelajaran jarak jauh yang sudah dilakukan selama ini. ASPD sebagai dasar, sejauh mana mutu pendidikan selama daring. Dan jadi salah satu penilaian masuk sekolah di jenjang lebih tinggi.

Sementara penentuan kelulusan siswa berdasarkan hasil ujian yang diselenggarakan satuan pendidikan tersendiri. Lalu digabungkan dengan nilai rapor.

Kepala Sekolah Negeri Rejodani Hatri Andari mengatakan, persiapan luring secara keseluruhan sudah siap. Fasilitas prokesnya juga siap. Mulai tempat cuci tangan dengan sabun, pengukuran suhu, desinfeksi rutin sebelum dan sesudah ASPD berlangsung. “Total yang mengikuti ASPD ada 31 siswa, dibagi ke dalam tiga ruang,” ungkapnya. (mel/laz)

Jogja Raya