RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 masih jauh dari kata selesai, termasuk di DIJ. Juru Bicara Pemprov DIJ untuk penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih menyatakan, ada penambahan 152 kasus positif baru di DIJ Minggu (23/5).

Jumlah itu menandakan penularan virus korona di DIJ masih tinggi. Ini bisa dilihat dari angka laporan kasus positif Covid-19 yang masih berkisar 100-200 orang setiap harinya.

Hingga Minggu (23/5) total kematian pasien Covid-19 di DIJ sudah mencapai 1.121 orang. “Sementara total kasus terkonfirmasi positif virus korona mencapai 43.129 orang,” ujar Berty.

Pakar epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad mengungkapkan, situasi pandemi di DIJ memang cenderung meningkat, karena transmisi lokal sudah cukup banyak. Di masa Idul Fitri 1442 H lalu, mobilitas masyarakat juga cukup tinggi.

Orang akan cenderung mengabaikan protokol kesehatan apabila sudah bertemu dengan keluarga atau teman dekat. “Kita harus lihat di India. Mereka mungkin sudah merasa berhasil menekan kasus Covid-19, sehingga memperbolehkan kegiatan yang besar dan menimbulkan kerumunan. Maka, kasusnya naik lagi,” ungkapnya.

Menurut Donnie, jika angka penderita semakin banyak akan mengakibatkan sistem kesehatan yang kacau. Jika kasusnya naik, maka jumlah orang yang sakit parah akan menjadi tinggi. Kapasitas rumah sakit belum tentu bisa mencukupi. Ini yang kemudian memicu kematian. Angka kematiannya juga naik.
Oleh karena itu dia mendorong pemerintah untuk mengevaluasi manajemen pengendalian pandemi, khususnya terhadap peningkatan kasus kematian akibat virus korona. Dikatakan, pemerintah harus melihat di mana letak kesulitan menangani pandeminya.

“Bisa saja itu terkait dengan akses di mana mereka yang merupakan pasien Covid-19 berat berasa dari ekonomi menengah ke bawah, sehingga akses layanan kesehatan lebih sulit dan lambat. Jadi, potensi kematian besar,” tambahnya.

Selain itu, potensi peningkatan kasus kematian bisa terkait dengan sistem rujukan. Meski telah ada sistem rujukan, hal itu belum sesuai dengan situasi pandemi saat ini yang membutuhkan kecepatan penanganan.
Dengan demikian, layanan kepada pasien kategori berat jadi lambat dan memperbesar kemungkinan terjadinya kematian. Faktor lain, menurut Donnie, adalah adanya virus varian baru dengan tingkat penularan tinggi
Maka pemerintah perlu menyiapkan sistem kesehatan yang mengantisipasi adanya lonjakan kasus untuk berjaga-jaga. “Harapannya ya itu tidak terjadi.

Tapi kalau terjadi, kita harus berjaga-jaga. Masyarakat juga jangan lupa protokol kesehatan. Itu salah satu yang bisa menjaga dari penularan,” harapnya.
Lebih lanjut Donnie menerangkan, untuk menekan angka kasus kematian akibat virus korona tidak cukup hanya dilakukan pemerintah dengan mengevaluasi manajemen kasus terhadap kematian akibat Covid-19. Masyarakat juga diharapkan mengambil bagian dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan dengan mematuhi 5M.

Yakni memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. “Masyarakat harus tetap menjalankan prokes, 5M, yang menjadi senjata unggulan untuk mencegah menularnya virus,” tandas Donnie. (kur/laz)

Jogja Raya